Seingatku Abah sudah di Jakarta kala masih belia. Abah awalnya bekerja sebagai pedagang keliling, hingga menemukan sebuah lapak yang diketahui merupakan tempat nongkrong anak-anak muda Jakarta dari berbagai sifat. Lambat laun lapak Abah semakin ramai karena banyak pedagang yang juga ikut meramaikan suasana tempat itu (resmi). Sebagai orang yang dipercaya, Abah ditunjuk sebagai mediator dalam urusan lapak dagang, seperti masalah keamanan, kebersihan, dan administrasi pemerintah setempat.
Abah jalani segalanya dengan penuh tanggung jawab.
Walaupun terkadang Abah dibuat tidak sabar karena perilaku pungutan liar,
preman resek, dan pihak keamanan yang datang belakangan setelah lapak2 hancur
karena tawuran.
Hingga beberapa waktu berjalan, godaan timbul karena
perilaku preman setempat yang mulai cari-cari masalah dengan lapak Abah. Atas
saran teman, akhirnya Abah menerima bantuan teman (militer) yang mungkin bisa
menjadi penengah (mediator) permasalahan tersebut. Namun, ternyata gagal dan
Abah harus mengeluarkan biaya rumah sakit (bagi luka beberapa preman) dan juga
teman Abah (karena berurusan dengan pihak keamanan: PM red). Alhasil, akhirnya Abah
harus berbagi hasil.
Berganti Pemprov, berganti pula kebijakan. Janji2 yang
sempat terucap disosialisasikan di awal menjabat. Salah satunya adalah penataan
dan penggusuran. Lagi2 lapak Abah dan lain-lainnya terimbas olehnya. Kala itu
Abah dan beberapa pedagang pun diminta untuk datang dan didaftarkan untuk
relokasi tempat yang baru. Namun, harus menunggu dahulu tempat itu jadi (janji
manis).
Hingga memasuki tahun berikutnya. Janji itu semakin
menggombal dan tak terealisasikan. Abah pulang dan ikhlas hingga akhir
hayatnya. Kami hanya tahu, Abah yang menemukan dan Abah pula yang mengakhiri,
hingga kami tahu harus bagaimana menjaga perjuangan itu.
Jakarta, 3 Juni 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar