Jumat, 01 Oktober 2021

Eksperimental sinopsis: “Prastawa Sadikun”

  Pagi (Bendungan Hilir, Karet Tengsin ’07)

..., Menepi bus 213 pagi ini. Sadikun turun dan melepas penat setelah bercengkrama malam dengan lapak dagangnya. Perlahan ia melangkah, ia sudahi penat istirahat sebentar di plaza bank terdekat. Mampir sebentar sarapan bubur ayam di Benhil Market. Kemudian, memilih kaset pita lagu2 ini untuk walkman secondnya, .... Wis ngono wae.

Eksperimental sinopsis: “Prastawa Sadikun”


Dini hari (Jl. HOS. Cokroaminoto, Menteng ’04)

..., Sadikun tau diri. Ia sadar betul bagi lapaknya. Mereka bukan sekumpulan pemalak yang hanya meminta untuk sekadar mengisi perut. Tetapi, sekumpulan orang bebas yang sudah terorganisasi rapi, bahkan bercabang di kota ini. Ekspansi lapak menurut mereka, sebagai  bisnis segala cara. Bagi Sadikun, Irul sahabatnya adalah jawaban dari masalah itu. Beruntung, ia ada di kota ini setelah kembali dari operasi konflik di ujung barat Indonesia. Mediasi tak mendapatkan titik terang dan ricuh malam itu.

“Aku mung bisa bantu sebisaku, Kun. Setidake mereka wis ra wani ngrusuhi. Tapi ya kudu ngalah sitik bagi rezeki ngga wong-wong kuwi“  ....

Siap, Rul.  Kala itu.

Eksperimental sinopsis: “Prastawa Sadikun”

 

Pagi hari (Pelabuhan ... ,’08)

..., Megahnya taman yang dibangun di pusat kota itu. Sadikun harus merelakan eksekusi lapaknya.  Beberapa endorse  sebenarnya menguatkan lapak  Sadikun agar tetap berjalan. Namun, Sadikun tidak bergeming. Ia sendirilah yang tahu mengapa ia tidak mau.

Di buritan kapal, Sadikun pun menyudahi tatapannya. Melempar senyum sejenak pada tanah kelahirannya. Dan perlahan-lahan kapal mulai mengarungi Laut Jawa menuju  seberang. Tanpa harus melukiskan kisah Titanic atau Tenggelamnya Kapal van der Wijck, ...

..., Jangkahmu sih luas, Kun.

Eksperimental sinopsis: “Prastawa Sadikun”


Selepas Asar (Geladak kapal, Tengah Laut Jawa ... ,’08)

..., Sadikun mengusap peluh sejenak. Setelah berpanas-panasan mencari sinyal, maklum “Hp jadul” di atas geladak. Ombak dan embusan angin agak besar saat itu. Sempat khawatir karena beberapa kali debur air ombak menghantam kapal dan masuk ke buritan. Badan kapal bergetar dan dibiarkan ikut dengan suasana yang ada (Sebuah trik antisipasi agar kapal tidak oleng).

“ Ikam, kadak usah takut, Kun.

Itu hal biasa saat  berlayar.”

Suara medok Husein, asal Jambi yang telah lama merantau di Banjar.  Ia tampak tenang saat itu. Setelah Sadikun tahu, Husein sudah hampir 13 tahun menjadi sopir kapal Kokang Batu Bara di rantau ini.

“Pantes”

Eksperimental sinopsis: “Prastawa Sadikun”

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Curhatan Warga Desa

Ironi: Galengan* ROSID WURYANTO · SABTU, 12 OKTOBER 2019 ·1 MENIT   ..., “ Ki Lurah, cukup satu saja permintaan kami, embung !!! Janga...