Pagi (Bendungan Hilir, Karet Tengsin ’07)
..., Menepi bus 213 pagi ini. Sadikun turun dan melepas penat setelah bercengkrama malam dengan lapak dagangnya. Perlahan ia melangkah, ia sudahi penat istirahat sebentar di plaza bank terdekat. Mampir sebentar sarapan bubur ayam di Benhil Market. Kemudian, memilih kaset pita lagu2 ini untuk walkman secondnya, .... Wis ngono wae.
Eksperimental sinopsis: “Prastawa Sadikun”
Dini hari (Jl. HOS. Cokroaminoto, Menteng ’04)
..., Sadikun tau diri. Ia sadar betul bagi lapaknya.
Mereka bukan sekumpulan pemalak yang hanya meminta untuk sekadar mengisi perut.
Tetapi, sekumpulan orang bebas yang sudah terorganisasi rapi, bahkan bercabang
di kota ini. Ekspansi lapak menurut mereka, sebagai bisnis segala cara. Bagi Sadikun, Irul
sahabatnya adalah jawaban dari masalah itu. Beruntung, ia ada di kota ini
setelah kembali dari operasi konflik di ujung barat Indonesia. Mediasi tak
mendapatkan titik terang dan ricuh malam itu.
“Aku
mung bisa bantu sebisaku, Kun. Setidake mereka wis ra wani ngrusuhi. Tapi ya kudu
ngalah sitik bagi rezeki ngga wong-wong kuwi“ ....
Siap, Rul. Kala itu.
Eksperimental
sinopsis: “Prastawa Sadikun”
Pagi hari (Pelabuhan ... ,’08)
..., Megahnya taman yang dibangun di pusat kota itu.
Sadikun harus merelakan eksekusi lapaknya.
Beberapa endorse sebenarnya
menguatkan lapak Sadikun agar tetap
berjalan. Namun, Sadikun tidak bergeming. Ia sendirilah yang tahu mengapa ia
tidak mau.
Di buritan kapal, Sadikun pun menyudahi tatapannya.
Melempar senyum sejenak pada tanah kelahirannya. Dan perlahan-lahan kapal mulai
mengarungi Laut Jawa menuju seberang.
Tanpa harus melukiskan kisah Titanic atau Tenggelamnya Kapal van der Wijck, ...
..., Jangkahmu sih luas, Kun.
Eksperimental
sinopsis: “Prastawa Sadikun”
Selepas Asar (Geladak kapal, Tengah Laut Jawa ...
,’08)
..., Sadikun mengusap peluh sejenak. Setelah
berpanas-panasan mencari sinyal, maklum “Hp jadul” di atas geladak. Ombak dan
embusan angin agak besar saat itu. Sempat khawatir karena beberapa kali debur
air ombak menghantam kapal dan masuk ke buritan. Badan kapal bergetar dan
dibiarkan ikut dengan suasana yang ada (Sebuah trik antisipasi agar kapal tidak
oleng).
“
Ikam, kadak usah takut, Kun.
Itu
hal biasa saat berlayar.”
Suara medok Husein, asal Jambi yang telah lama
merantau di Banjar. Ia tampak tenang
saat itu. Setelah Sadikun tahu, Husein sudah hampir 13 tahun menjadi sopir
kapal Kokang Batu Bara di rantau ini.
“Pantes”
Eksperimental
sinopsis: “Prastawa Sadikun”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar