#1 Gara-Gara Nggabres!
Bagi siswa sekolah, ujian nasional merupakan tahap akhir penentuan proses belajar yang didapatkan dibangku sekolah selama ini. Penentuan kelulusan sekarang sangat diperhitungkan oleh siswa, karena apabila tidak lulus, kemungkinan akan mengulang kembali ujian pada tahun berikutnya.
Keseriusan menempuh ujian sudah menjadi bagian terpenting bagi siswa dalam menjalaninya. Namun, kadangkala dalam menempuh ujian ada-ada saja yang mengalami hambatan atau kejadian yang bertolak belakang dengan apa yang diharapkan.
Ihwal kejadian inipun menimpa sohib Koplo yang bernama Tom Gembus yang sudah memasuki masa hayub-hayuben sekolahnya. Gembus yang notabene sekolahnya di SMK di kota Solo inipun juga mengikuti ujian nasional.
Gembuspun sudah melakukan persiapan sebelum hari H ujian nasional. Mulai dari menghapal buku-buku pelajaran sampai belajar sistem kebut subuhpun dilakukannya. Perlu diingat, Gembus ini pantang berlaku curang dan ngapusi. Sehingga masalah contek mencotek atau membawa catatan kecil dalam ujian tidak pernah ia lakukan. Kendati banyak teman-temannya sudah terpengaruh adanya SMS jawaban ujian, ia tidak pernah nggagas hal itu.
Di hari pertama ujian, Gembus menempuh ujian pelajaran Bahasa Indonesia. Ia terlihat percaya diri dan yak-yako, karena ia sudah mempersiapkan dengan matang. Apalagi pelajaran Bahasa Indonesia termasuk pelajaran yang paling disukainya.
Semangat Gembus dalam menempuh ujian sudah seperti ketika sedang berkecan dengan Genduk Nicole, gadis pujaannya itu. Ia sudah memahami bagaimana cara mengerjakan soal ujian dengan cepat, sehingga dalam setengah waktu saja, ia sudah mampu menyelesaikan hampir separuh lebih jawaban ujian.
Alhasil Gembus sudah menyelesaikan soal ujian itu. Sisa waktu ia gunakan untuk meneliti kembali jawabannya sambil leyeh-leyeh sejenak. Selang beberapa menit, tampak Bu guru Lady cempluk memberitahukan kalau waktu ujian tinggal lima menit lagi untuk meneliti kelengkapan dalam kertas ujian itu dan memintanya segera dikumpulkan karena waktu ujian telah habis.
Di tengah suasana akhir waktu ujian, tiba-tiba terdengar suara keras di kelas itu.
“Wha……jing !!!!!!!!!
Ternyata suara Gembus lagi batuk nggabres sambil menggerutu dengan apa yang terjadi. Kontan saja semua menjadi kaget dibuatnya dan membuat Cempluk penasaran.
“Eneng opo to, Mbus?”
“Waduh, Bu! Ujian kulo niki terus pripun?”
“We allah Mbus…Mbus! Yo wis mengko tak omongke dhisik karo ketua pengawase!”
Alhasil, ternyata saat Gembus nggabres, kertas ujiannya basah dan membuat jawabannya mblobor kemana-mana. Ning Ndhilalah berkat kebijakan pengawas, Gembus masih diperbolehkan ikut ujian susulan. Ia hanya bisa legawa dengan apa yang terjadi padanya.
#2 Mana Ayam Gorengnya, Mas Koplo!
Dunia pemasaran identik dengan proses pendistribusian barang maupun jasa. Setiap perusahaan yang bergelut dibidang pengadaan barang dan jasa pasti memiliki target dalam mendistribusikan hasil tersebut. Seperti salah satunya, perusahaan yang bergerak dibidang kuliner. Proses pendistribusian dapat dilakukan melalui jasa pengiriman, baik secara manual maupun paket. Namun, dalam pendistribusian itu, kadang tidak sesuai dengan apa yang dikirimkan, dalam artian isi barang yang dikirim berkurang atau keliru dalam prakteknya. Peristiwa itulah kadang menimbulkan sisi terlucu dan mengundang gelak tawa bagi sebagian orang yang mengalaminya.
Kejadian pendistribusian kurang itu pernah juga dialami oleh sohib kita, Jon Koplo, yang notabenenya bekerja direstoran terkenal di kota Solo. Sebagai seorang karyawan, di samping memasak, Koplo juga kebagian tugas untuk mendistribusikan paket menu masakan yang dipesan oleh pelanggan.
Suatu hari, di tempat bekerjanya, Ia mendapat pesanan dari pelanggan dalam jumlah yang besar. Seperti biasa, Koplo dan teman-temannya bersiap untuk menyelesaikan pesananan itu. Kebiasaan paket pesanan ini menggunakan kotak untuk membungkus menu masakan. Sehingga butuh waktu lama dalam mempersiapkannya.
Selang beberapa waktu, selesailah pembuatan pesanan itu, tinggal dikirimkan, pikirnya!. Setelah mengurus bon yang belum terlunasi, ia kemudian dengan sigap segera mengantarkannya. Dengan motor perusahaan, berangkatlah ia menuju ke alamat pelanggan sambil bersenandung kemaki.
Alhasil sampailah ia ke alamat pemesan yang bernama Lady Cempluk. Segera saja paket diturunkan satu persatu. Setelah selesai. ia kembali ke tempat kerjanya.
Sesampainya tempatnya bekerja dan belum sempat turun dari motor, tiba-tiba manajer Tom Gembus menghampirinya .
“Plo, tadi paketannya kurang satu, orangnya nelpon kesini, jadi kamu mesti balik dulu, untuk mengantarkan kekurangannya.”
“Oh iya pak Gembus, segera saja saya antarkan,” sahut Koplo setengah kaget tiba-tiba.
Tanpa ba bi bu, ia kembali melaju ke alamat pemesan tadi dengan lagak kemakinya yang tidak sembuh-sembuh. Kembali ia sampai di tempat Cempluk.
“Lho mas, kekurangan paket ayam goreng tadi mana?”sahut Cempluk.
Ditanya tiba-tiba oleh Cempluk membuat Koplo gelagepan, karena ternyata kekurangan paket itu belum di bawanya.
“Waduh Mbak, ternyata belum aku bawa je, sebentar tak balik dulu,” kata Koplo sambil mbesengut menahan malu. Dalam perjalanannya, ia mengumpat, ditambah lagi sesampainya ditempat kerja, ia sempat mendapat omelan dari Tom Gembus.
“Makanya Plo, klo diomongi, didengerin dulu, lha wong paketannya belum dibuat, sudah geblas wae, ya sudah, sana diantar lagi paketannya.” kata Gembus gacuk nyaut kotak paketan. Setengah mrengut, Koplo lagi-lagi kembali mengantarkan kekurangan itu.
Setelah kepergian Koplo. Ditempat kerjanya kembali panik, karena Genduk Nicole, yang notabeneya Kasir, ngomong kepada manajer Gembus.
“Mas Gembus, kekurangan paketan yang dibawa Koplo tadi, ayam gorengnya belum ada, baru nasi ama sambalnya saja.” Kontan saja Gembus langsung mbesengut karena kata-kata Nicole.
“Wo allah Jan, apes benar hari ini, bolak-balik lagi sana Plo! Gembus sambil gedak-gedek kepalanya.
#3 Mbledhos Lho
Bagi seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan, di samping
pengalaman, gaji merupakan fokus utama yang dicari, baik untuk mencukupi
kebutuhan keluarga maupun untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Sistem pemberian
gaji oleh perusahaan dapat diberikan bulanan, mingguan, dan dalam sekali
bekerja atau borongan.
Seperti sohib kita, Jon Koplo adalah karyawan perusahaan swasta yang
bergerak dalam produksi kain kaos di wilayah Sukoharjo. Karena perusahaannya
menerapkan sistem gaji bulanan, Koplo menganggap terlalu kesuwen, apalagi sejumlah bon
dan keinginan sudah harus terpenuhi.
Hingga suatu saat, hari yang ditunggu akhirnya tiba juga, ia menerima
gajinya dengan muka mesam-mesem.
Setelah menyelesaikan bonnya, Koplo
segera memenuhi keinginan untuk membeli jaket, yang sudah diharapkan jauh-jauh
hari untuk dipakai ngapel dengan
kekasihnya, Lady Cempluk.
Bersama Tom gembus, Koplo segera berangkat ke Luwes Gading untuk mewujudkan
niatnya. Di tempat itu, Koplo pun memilih jaket yang sesuai dengan apa yang
diinginkan. Setelah menemukan pilihan jaket, ia akan mencobanya dulu sebelum
membeli.
“mBak kamar gantinya di mana?” tanya Koplo kepada penjaga stan.
“Sana Mas, samping toilet,” jawab penjaga tersebut.
Koplo segera beranjak menuju arah yang ditunjukkan penjaga stan. Sambil celingak-celinguk, akhirnya Koplo
menemukan tempat tersebut, namun tiba-tiba.
“Mas, itu bukan ruang ganti!” sahut Cleaning Service.
Kontan saja, Koplo menghentikan langkahnya sambil kebingungan. Alhasil,
ternyata tempat yang dituju adalah ruang Genzet, bukan ruang ganti yang
dimaksudnya. Kalau saja Koplo menyadari, sebenarnya ruang ganti berada di
samping kanan toilet, bukan di samping kiri.
“Oalah Plo, yen duwe karep, yo jo
ngisin-ngisini ngono,” sahut Gembus ngakak sak pole bersama
pengunjung yang melihat kejadian itu.
#4 HP Batu Baterai
Manusia dalam kehidupan diciptakan memiliki sifat-sifat
dan perilaku yang berbeda-beda. Sifat –sifat tersebut sebagai anugerah yang
bernilai dan menjadi ciri khas dalam menentukan tingkah laku manusia.
Adakalanya manusia mempunyai sifat senang, sedih, dan tergesa-gesa bila
menghadapi berbagai persoalan yang menimpanya, terutama bila persoalan itu
begitu mendesak dan menyita pikiran untuk segera diselesaikan secara cepat, kendati
pun tanpa mengetahui apakah hal tersebut benar bila dilakukan. Proses panjang
manusia yang memiliki sifat tergesa-gesa kadang mengakibat keteledoran dalam
prakteknya, kadang pula menimbulkan gelak tawa bagi orang lain yang
mengetahuinya, karena dianggap lucu dan menganggap itu sebagai sebuah
pernyataan bahwa ternyata ada juga yang bisa melakukannya seperti itu.
Ihwal ketergesaan itu dialami juga oleh sohib kita Jon
Koplo, walaupun ia sendiri sebenarnya termasuk orang yang siap bila menghadapi
sebuah rencana, namun dhilalah hal
itu menimpa dirinya. Kejadiannya bermula ketika Koplo bersama temannya menjadi
panitia Bazar dikampung, kendati bazar tersebut baru berjalan tiga hari, namun
banyak sekali peminatnya yang hanya sekedar ndelok
dan menikmati keramaian yang sudah lama tidak ada dikampungnya. Apalagi disela-sela
bazar tersebut juga ada pentas Musik yang semakin menambah semarak keramaian
tersebut.
Keteledoran dimulai ketika panitia Bazar kebingungan
karena genset sebagai pendukung pentas Musik tersebut belum juga datang,
apalagi waktu sudah menunjukkan kalau pentas musiknya akan segera dimulai. Saking mumetnya panitia grobyakan dibuatnya, lebih lagi Koplo,
karena ia dalam kepanitiaan Bazar tersebut sebagai ketua panitianya, ditambah
lagi banyak peserta Band yang cemlang-cemlong
tidak sabaran untuk segera yak-yakan
di atas panggung.
Menghadapi dua masalah, Koplo semakin ruwet saja
dibuatnya, apalagi Gembus sebagai MC bayaran sudah uring-uringan dengan keadaan seperti itu.
“Plo, gimana ini!,
musiknya jadi atau ndak”?
“Sabar Mbus, tak
usahakan dulu” sahut Koplo sambil
memegang jidatnya. Koplo dengan sigap segera menemui teman-teman panitianya
yang sama-sama kebingungan.
“Pluk, kamu bawa
HP ndak? Coba miscallen yang punya genset!” teriak Koplo kepada Lady Cempluk.
“Wah Plo, pulsaku
habis, trus aku ndak punya nomornya”.
\Dengan grusa-grusu
Koplo segera mencari HP disakunya, namun dhilalah
Hpnya ketinggalan di rumah. Kontan
saja dengan berlari ia segera beranjak pulang untuk mengambil Hpnya.
Setengah jumpalitan,
Koplo segera mencari Hpnya, walaupun kamarnya gelap, ia sudah tahu dimana
biasanya menaruh Hpnya, setelah ditemukan, kemudian dia berlari lagi ke tempat
teman-temannya. Di tempat tersebut, tanpa ba
bi bu, Koplo segera memencet tombol benda yang sedari tadi dipegangnya,
namun tiba-tiba ia bengong dan hampir saja pingsan ditempat itu, kalau saja
teman-teman panitianya tidak memegangnya sambil tertawa ngakak.
Kontan saja teman-teman panitianya ngakak kepada Koplo dengan peristiwa itu, karena ternyata benda
yang dikira Hp miliknya ternyata Remote TV yang tadi diambil dikamar.
Alhasil Koplo dengan senyum pahit sambil garuk-garuk kepala menerima ocehan
teman-teman panitianya, sampai-sampai ada yang jingkrak-jingkrak akibat tingkah
polah koplo tersebut.
Sebenarnya kalau Koplo
tidak tergesa-gesa mungkin peristiwa itu tidak terjadi jika saja ia meminjam HP
teman-teman panitia yang lain, apalagi genset yang tadi diributkan ternyata
sudah berada ditempat itu, maklum tertutup terpal pedagang yang ikut meramaikan
bazar tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar