Jumat, 22 Maret 2024

Curhatan Warga Desa

Ironi: Galengan*

ROSID WURYANTO·SABTU, 12 OKTOBER 2019·1 MENIT

 

..., “ Ki Lurah, cukup satu saja permintaan kami, embung !!! Jangan biarkan kami terlalu menganggur. Lahan kami sudah kering. Ulu-ulu sudah sangat sewot, jatah air sudah tak terbagi. Anak2 kami sudah tidak bisa lagi langen (berenang) dengan gedebog pisang, pinta Karso, sambil update status di gubug sawahnya.
..., Tunggulah, bentar lagi hujan,” tertulis di bilik komentar Karso.
Karso menghela napas sambil ngomyang, “Seperti biasa!”


Samar2 terdengar di telinga Karso,
“Mbiyen aku sing betah, suwe2 wegah ...” (Kartonyono, Denny Caknan)

(eksperimental sinopsis Cerpen )
*Pematang

 

Ironi: Galengan Teles*

ROSID WURYANTO·JUMAT, 08 NOVEMBER 2019·1 MENIT

 

..., “Nyi Lurah, banyak pemuda pinter di wilayah Nyi Lurah yang harus tinggalkan kampung demi mengabdi & sudah menorehkan prestasi di daerah lain. Sepertinya ini perlu diperhatikan Nyi. Kalau dibiarkan terus, wilayah kita akan terus terbelakang dan lampau karena dihuni orang2 dulu, tanpa inovasi & improvisasi.”

Update status Karso ditumpukan damen sawahnya.

Tertulis komentar: “Semua sudah ditentukan di atasku. Kami manut, hanya menerima & juga melantik saja.”

“Seperti menjadi kebiasaan berulang2” sahut Karso sambil menyalakan korek api untuk membakar damen.

 

Sayup2 terdengar lagu:

Tambarno karo tak nggo latihan

Sok nek wes oleh gantimu

Wes ra kajok aku

Mergo wes tau

Wes tau jeru (Kartonyono, Medot Janji)

 

Eksperimental Sinopsis cerpen

* Pematang basah (sebuah filosofi)

 

Ironi : Mugar Galengan*

ROSID WURYANTO·JUMAT, 06 DESEMBER 2019·1 MENIT

 

..., Sudah banyak yang uzur, Ki Lurah. Sudah banyak yang melampaui usia pensiun. Tetap saja Ki Lurah beri perpanjangan. Banyak milenial cerdas di wilayah Ki Lurah menunggu kesempatan untuk mengubahnya. Apakah Ki Lurah tidak ingat. Wilayah sebelah sudah ada penyegelan karena hadir sosok yang belum warga kenal, ... “

Tulis tweet Karso di Twitternya tanpa berharap menunggu balasan. Setelah tahu Ki Lurah tidak punya akun ini.

Sayup terdengar lirik:

 

..., Opo kudu pasrah kahanane
Kudu nerimo karo putusane
Saktenane ati iki ora lila
Yen nyawang sliramu
Nyanding wong liya (
Denny Caknan “tanpa tresna”)

 

Eksperimental Sinopsis cerpen:

*Perbaikan Pematang (sebuah filosofi)

 

Sumber: https://www.facebook.com/rosid.wuryanto/notes_drafts 

Kamis, 26 Oktober 2023

Cerpen " Berbalik Arah " (2003)

   

Galih pagi ini terlalu bising merangkai sebuah kata-kata penting untuk Tina. Wajar Galih tidak mampu mengungkapkan kata-kata itu seumur hidupnya, bukan sebuah alasan ia tidak pernah mengungkapkan kata-kata itu sebelumnya, namun sekarang yang dia hadapi adalah seorang Tina yang sedang membumbung tinggi kariernya di entertaiment.

Terlalu berat bagi Galih ketika pertama kali menginjakkan kakinya di perumahan elite milik keluarga Tina, kalau tidak teguran satpam dan sigap Herder yang menyalak bila terlalu asing melihat orang. Namun Galih bukan seorang kerdil yang terlalu pendek dilihat orang berbadan tinggi, kedewasaan sikap sedia menjadikan Galih wibawa dan membuat itu semua hilang dari benaknya.

“Pagi Pak! sapa Galih kepada pak satpam jaga.

“Pagi! Ada perlu apa?” sahut satpam sambil memandang Galih dengan sinis, seolah menginterograsinya.

“Bisa ketemu Tina Pak?

“Tina siapa? di sini tidak ada yang namanya Tina, kalau Tina pembantu ada di samping perumahan ini’ kata satpam ketus.

“Bukan Tina itu Pak! Tina yang sekarang terkenal itu!”

“Tina toon!”

“Bukan Pak!” kata Galih sedikit kesal dan memutuskan untuk pergi saja daripada semakin ruwet urusannya.

Dalam perjalanannya diwarnai kejengkelan dan sedikit mengumpat pada satpam yang baru saja ditemuinya, padahal menurutnya, perumahan tadi benar milik Tina. Terbayang kini hasrat untuk mengungkapkan perasaan seakan tiada berarti lagi dihati Galih, sejumlah kata-kata yang telah disusun seolah sudah tidak ingin menjadi bagian dari pikirannya, semua sirna ketika Galih jatuh dari tempat tidur.

“Sialan” umpat Galih meringis kesakitan.

“Lih....Galih cepat bangun! teriak mBoknya.

“Iya mBok!” Sahut Galih dan beranjak keluar dari kamar tidurnya.

“Ada apa mBok?”

“Begini Lih, simbok sekarang mau tirakatan pernikahan Sumi, kamu jaga rumah dulu, soalnya Pak Kades katanya mau ke sini ngurus sertifikat tanah” kata simbok sambil membenahi kebayanya.

“Ah simbok! Kan ada Nunik?”

“Nunik mau ikut tirakatan sama simbok, kamu saja yang jaga rumah”

“Ya sudah kalau begitu” kata Galih sambil menulisi amplop sumbangan.

Galih terbayang ketika pertama kali ia bertemu Tina dalam acara Talk Show di Solo Grand Mall, Galih pernah menjadi panitia acara tersebut, sehingga wajar bila Galih mengenal Tina. Semangat juang Galih dalam menarik simpati Tina terobsesi oleh pepatah Jawa Tak akan lari gunung dikejar menjadikan Galih mempunyai niat untuk mengenal Tina lebih jauh.

Bait-bait syair lagu kembali memecah keheningan rumah Galih, suara penyiar radio dengan lembutnya mengisi suasana diri seorang mahasiswa semester tujuh ini. Lagu-lagu Ebiet terdengar mengalun seakan tahu Galih sedang mendendam rasa hatinya yang kacau, yang merindukan di mana gerangan Tina sebagai curahan rasa sayangnya itu.

“tulalit.......tulalit.........” Suara dering ringtone sms Hpnya. Tertulis pesan berbunyi:

Mas Galih, skrg q di SGM, u bs ke sni ndak?, Tina.

Sender:

+6285677963215

Kontan Galih tersenyum setelah membaca pesan sms tersebut, wajah muram yang bergelanyut dari tadi siang kini berubah menjadi warna cahaya, jiwa Galih semakin terasa kuat untuk segera menemui Tina yang telah menjadi pujaannya itu.

Solo Grand Mall terlihat ramai, pusat tongkrongan anak muda Solo ini tampak begitu indah dilihat Galih, karena keindahannya tidak hanya gedungnya, namun kehadiran Tina di tempat ini membuat dirinya mengagumi pusat perbelanjaan ini. Peluh semakin menetes di wajah Galih, namun niatnya untuk segera menemui Tina semakin membuat dirinya bersemangat.

Di tengah kerumunan anak muda, Galih sudah tidak memperdulikan lagi, setengah berlari sambil melihat kanan-kiri kalau saja Tina sudah dilihatnya ataupun Tina melihat kedatangannya. Namun lebih dari satu jam mencari ternyata wajah Tina tidak kelihatan.

Galih bersandar pada pagar pembatas lantai tiga sambil mengusap peluh yang sedari tadi terus mengucur dari wajahnya. Di antara lelah, Galih mencoba untuk kembali mencari Tina, namun ternyata hasilnya sama saja sampai terdengar dari pengeras suara memberitahukan kalau lima belas menit lagi Solo Grand Mall akan segera tutup.

Dengan langkah gontai, Galih beranjak meninggalkan tempat itu. Wajah murung kembali menyapa Galih dan dia kini terlelap di ranjang tidurnya, bahkan omelan simbok kini sudah tidak terdengar lagi ditelinga.  

Galih tak menyadari kekeliruannya, sebenarnya sms Tina memang diterima Galih hari ini, namun Tina mengirimnya satu minggu kemarin, kecerobohan memang menjadikan semuanya tanpa disadari dan menuai hasil lelah.

“Pak, kalau ada yang mencari saya, namanya Galih, suruh masuk saja, biasanya dia memanggil saya Tina.” kata Tina kepada satpam rumahnya.

Sebuah pertanyaan mengapa Galih tidak ke rumah Tina, apakah dia terlalu takut mimpinya menjadi kenyataan.   

Jumat, 12 Mei 2023

ARWAH POLITIK SELASA KLIWON

 

..., “Wong durung bener, wis kabeh do mbenerke. Nganti dadi wirang lan do wedi metu bengi.”

Bergeming Lik Soka dalam hening malam ini.  Nuansa saat itu. Sejak ada kabar Mas Santo pingsan karena diweruhi mendiang istrinya di belakang rumah.Suasana desa  menjadi sepi. Situasi makin mencekam, tatkala desus pengakuan seorang warga yang melihat si Sum (istri Mas Santo)  duduk sendirian di pagar makam, tempat ia disemayamkan Selasa Kliwon kemarin.

Desus pun makin menyebar dan menjadi headline majalah misteri yang beredar luas di kota. Beberapa orang pintar pun silih berganti dipanggil untuk mengecek desus tersebut. Namun, tidak semuanya mau. Karena alasan yang kurang mengena.

Hal itupun terdengar pula di telinga dua cakades yang akan berlaga di Pilkades tahun ini. Entah siapa yang berencana. Namun, suasana ini adalah cara jitu untuk usaha memenangkan kompetisi ini.

“Semua harus berprioritas, secepatnya bergerak. Yakinkan mereka semua di rumah.  Cash. Mungkin dengan cara itu, kita akan mendulang simpati warga. “

“ Sendika dawuh, Pak!

..., Adanya pengakuan seorang warga yang melihat si Sum (istri Mas Santo) duduk sendirian di pagar makam, tempat ia disemayamkan Selasa Kliwon kala itu. Desus pun kembali meninggi, ketika Lik Soka, pemilik warung dekat makam, menjumpai kain mori setengah meter nyangkut di lapak bensin warungnya saat akan berangkat salat Subuh.

Desus itupun juga membuat begidik Panidi, pedagang sayur di sekitar makam itu. Ia tak menyangka, entah benar atau tidak, mbak Sum akan menjadi arwah gentayangan. Padahal, Mbak Sum adalah pelanggan sayur terbaiknya. Apalagi saat berbelanja sayur, Mbak Sum paling suka sayur singkong. Itulah yang membuat Panidi sering mengingatnya. Akibat desus itupun membuat Panidi tidak lagi atau enggan kulakan sayur singkong. Alasannya, ia tidak ingin tiba-tiba saja Mbak Sum menjawil dirinya untuk menanyakan sayur itu saat ia pertama kali menggelar dagangannya.

“Di, sesuk kowe kulakan pohong (singkong-red) sing akeh yo, kalau bisa yang masih ada batangnya juga gak papa. Ini uange. Jangan sampai lupa. Lali awas!”

“ Nggih Kang Dirun. Sesuk kula kulakne.”

Panidi pun  sendika dawuh sambil memerhatikan secarik kertas bergambar singkong lengkap dengan nomor pilihan yang dibawa Kang Dirun.

......................................................................................

Setelah kejadian pingsannya malam itu, Mas Santo sering termenung dan terheran-heran atas kabar itu. Sangkaan itu pernah ia tepis sebagai halusiasi karena saat itu memang terpukul atas meninggalnya mendiang istrinya (si Sum). Namun banyak rumor dan desus di sekitarnya membuat ia kembali tak berpikir jernih. Hingga saat ini.

“Sebagai calon kepala desa, saya turut berbelasungkawa atas kepergian istrinya Mas Santo. Semoga Mas Santo dan keluarga sabar dan tabah atas musibah ini.”

“Terima kasih Pak atas simpatinya terhadap keluarga kami.”

“Ehh ... sama-sama Mas Santo. Saya sebagai calon kepala desa juga harus peka terhadap warganya to. Hitung-hitung sebagai awal kepekaan saya sebagai calon kepala desa. Itu juga nanti akan lebih peka jika benar-benar jadi.”

“Iya Pak.”

“Baiklah Mas Santo. Saya dan seluruh kader pemenangan pamit. Karena harus berkunjung ke warga yang lain. Ini sedikit buat keluarga Mas Santo.”

“Apa ini Pak?

“Sudah terima saja Mas Santo.” Sahut Kang Birin meyakinkan Santo.

Mas Santo pun tak dapat menolak pemberian berharga disertai gambar simbol dan nomor urut calon kepala desa. Mas Santo terdiam sejenak dan membiarkan saja pemberian itu di atas meja tamu. Kemudian ia menuju meja kerjanya. Booting laptop dan menyiapkan kamera yang terletak di samping kartu dengan latar khas warna biru.

“Siapa pun kau, siapa pun yang ada dibalikmu atau kuasamu. Kau akan terbaca di sini kebenarannya ..."

Mas Santo mengernyitkan dahi. Ia mulai menggerakkan telunjuk untuk huruf pertama. Huruf yang ia harapkan sebagai titik awal mengungkap kebenaran. Bukan hanya dirinya, tetapi juga untuk orang di sekitarnya. “K” font arial 24pt, format Ms.word, A4, spasi 1,5. Mas Santo memilih huruf itu dan mulai memberi napas untuk story selanjutnya.

“Kira-kira Santo, apa gelem mendukung bapak ya, Rom?

Birin memulai membuka pertanyaan, saat Romdoni dan beberapa kader calon lurahnya berkumpul.

“Wah kalau itu, aku ya durung bisa memastikan Kang. Masalae wong-wong kene karaktere beda-beda. Ada yang antusias, tur ada juga sing blas, lan ana sing nrabas kang Birin.” Sahut Romdoni.

“Maksudya piye, Rom?”

“ Ngene kang. Akeh wong sing antusias karena ikhlas dukung lan uga ana sing bab janji utawa pamrih. Ana wong kang blas, artine ora dukung lan ora respek blas marang bapak, kang.

“Sing blas iku apa uga termasuk ora nggagas, Rom?

“Iku salah sijine, kang. Ana sing nrabas juga, artinya gelem ndukung tapi pingin sing luwih akeh njaluke. Ateges ana dukungan uga kudu ana piturutan, kang Birin.

“O .. ngana. Lha Santo iku klebu sing endi, Rom?

“Bola-bali nek iku aku durung isah nyimpulke, dienteni karo dhelo-dhelo diindik Kang.”

"Oh ya wis. Saiki ayo padha disambi sakeneke sik, teh anget karo pohung. Mengko lagi dilanjut lakune.”

Mereka pun mulai menikmati sajian itu.

Di tempat berbeda.

Pesenanku pohung wingi endi, Di? Celetuk Kang Dirun kepada Panidi, bakul sayur di sekitar makam.

“Iki kang, mung oleh sitik. Liyane mau enek sing njaluk ngga acara pertemuan jare.”

“Oh ya wis. Iki langsung tak bawa. Selak penting.Oh ya, Di. Semisale Birin utawa Romdoni rene. Nek takon aku. Ngomongo nek aku ra tau rene. Aja nganti luput. Luput awas neh kowe.”

“Ya ... i ... ya kang.” Jawab Panidi agak ketakutan.

 

Dini hari terlewat.

Seperti hari-hari kemarin, Mas Santo menyudahi lembaran demi lembaran tulisan di laptopnya.

“Tekan semene sik,” pikirnya sambil beranjak mengambil air wudu. Kemudian ia  beranjak menuju mushola di sekitar makam.

Tempat di mana istrinya bersemayam dan sempat viral kemarin. 

“Pripun kabaripun Mas Santo?”

“Pengestune Lik Soka. Alhamdulillah sae. ”

“Alhamdulillah. Mangga salat Qabliyah riyin.”

“Nggih Lik. Mangga.”

Di sekitar mushola, sepasang mata terlihat mengawasi keduanya. Tak lain dan tak bukan. Ya Romdoni dan kawan kadernya sedang ngindhik Mas Santo.

Ngindhik untuk meyakinkan sampai di mana arah Mas Santo terhadap konstelasi Pilkades saat ini.

“ Apa kudu ditarget tenan to, Santo ki Rom? tanya Pandoyo

“Aku ya mung melu arahane Kang Birin, Doy?”

“Pan apa Yo wae Rom. Kesane nyebut Doy malah kaya apa wae.”

“Haa ... haaa ... . guyon Doy... eh Yo.” Lanjut Romdoni.

Pandoyo mbesengut, namun fokus ngindhik.

“Asline aku  nggumun karo Kang Birin, Yo.Kudune sing diawasi  ki kang Dirun lan sakkancane. Lha kok malah Santo.” Sambung Romdoni.

“ Iya kang. Apa kowe wis tau takon alesane karo Kang Birin?” Sahut Pandoyo.

“Uwis. Tapi angsulane ya podo. Manut karo bapak.”

“Oh ngono. Bener kudune Kang Dirun sing luwih fokus diindhik. Tur wingi, ana kedaden Yu Sar nesu-nesu karo Dirun, Rom.

“Lha bab apa, Yo?”

“Iku. Kang Dirun ya rada wengg ...”

Piye maksude?

“Demi  menangke calonne. Anake Yu Sar. Rai sakawak dicat gambar pohung sak wite rata tekan geger, Kang.”

“Waduh ... ckkk ckkk ... . Terlalu nek kuwi”  Romdoni gedek-gedek.

......................................................................................

Pancen kudu sabar tenan ya, Yu Sar Ngadhepi lelakon kaya ngono.Tur iki ya reka mangsa kang akeh do golek pengaruh. Kang kadang isoh nggunake cara kang gawe crah lan cilaka." Kata Ndinem mencoba menenangkan Yus Sar atas peristiwa urek-urek di tubuh anaknya.

"Pancen wengg  tenan Dirun, Nem. Ora masalah nek bab pilian, tapi nek terus anakku dingga media kan ya gawe muntab. " Saut Yu Sar muring.

"Iya Yu Sar. " timpal Ndinem

"Lagian Nem. Sing ana awake anakku ki cat, dudu warna teres sing gampang ilang. Kuwi sing rada marai kesel."

Ndinem pun terdiam mencoba menyelami suasana hati Yu Sar. Sembari ia mencari celah, di saat yang tepat untuk memulai menenangkan Yu Sar lagi.

"Lha saiki anakmu, endi?" Tanya Ndinem.

"Bocah mau neng kamare, barang tak tiliki neh. Wis klepat dolan maneh. "

"Ya wis ra papa Yu. Mengka nek mulih diresiki maneh. Nek butuh lenga pet (Minyak tanah) ana kae nengomah. Aja sungkan-sungkan Yu, nek ngakon aku mbantu  ngresiki anakmu."

“ Iya Nem. Maturnuwun sadurunge.”

Di posko pemenangan calon lurah.

"Piye awakmu le? Apik ora gambarane pohung?" Tanya Kang Dirun

“ Sipp Om Dirun. Malah nyeni tur marai dadi kemaki aku.”

“ Haaa. Dadi malah ngedhap-gedhapi no kowe, Le."

“ Iya om Dirun."

“ Ya wis nekngana. Ayo, saiki leren sik ngombe-ngombe es. Mengka lagi mubeng neh ya. "

“ Nggih Om.”

Kang Dirun pun membersamai mereka. Sesekali kang Dirun mendongeng. Menggubah sebuah dongeng dengan judul lain“Kancil Nemu Pohung”.  Tujuannya agar makna isinya dapat mengena, merasuk hati, dan mematri bahwa simbol pohung adalah pilihan dan harapan bagi calonnya. Walaupun tidak tahu akan seperti apa calonnya itu nanti jika terpilih. 

“Apa yang telah diperbuat mereka. Aku harus tahu. Ini  baru proses, belum terjadi, dan kelak pasti terjadi."

Mas Santo menandai titik untuk ketikan akhirnya. Dini hari. Hujan  turun sedang. Mas Santopun menuju keran depan rumah. Membasuh telapak tangan hingga sampai sudut mata kakinya. Pelan melangkah menuju mushola.

Ditengarai suasana hujan sedang dan sayup terdengar suara singkat.Krosak .... !

"Mripatmu mbokdokok nengdi, Rom. Pecicilan ra karuan. Wong lagi ndodhok malah ditubruk.”

“ Wah katiwasan kang Birin. Ngapunten. Ora ngerti nek Kang Birin nengkana."

“ Ra nggenah kakehan polah.”

“ Sory kang. Aku kesusu ngejar Santo. Ben ora ketinggalan langkahe." kata Romdoni alesan.

“ Lha pa ndadak kesusu ki, Lha Wong Santo ya kerepe yang mung neng mushola kaya biasane. Sahut Kang Birin.

“ Iya Kang, Gur mastekne apa ya bener rana kang. Lagian Kang Birin ya suwe banget neng mburine. Tak kira ya langsung mantau."

“ Ya wis ... ya wis. Rasah ribut. Ndak malah konangan."

Seperti biasa Kang Birin dan Romdoni dalam selidiknya. Mereka tidak menyangka bahwa tingkah telah terendus oleh sepasang mata tidak jauh dari tempatnya ngindik.

“Mbok. Duwe kain putih?”

"Arep mbokngga apa, le? Lerena nengomah wae tak resiki awakmu?" Sahut Yu Sar kepada Irul.

Diam itulah jawaban Irul. Ia pun kembali tersenyum  dan sepertinya ada rencana besar dibenaknya. 

......................................................................................

Menjumpa pagi setelah Subuh berlalu. Lik Soka menuju rumahnya. Samar-samar kabut berembun masih menghias area pemakaman sekitar rumah Lik Soka. Warung kecil miliknya pun sudah mulai dibuka oleh istrinya. Tampak di sudut makam, Panidi pun sudah terlihat mulai  menjajakan sayur seperti biasanya.

“Sayurane komplit, Di?” Sapa Lik Soka setelah mengganti kokonya.

“ Komplit Lik Soka.  Sayur pohung sing mboten enten.” Jawab Panidi dari lapaknya.

“ Heleh. Berarti ya rung komplit. Ya wis dilanjut sik, Di.”

“ Nggih Lik.”

Lik Soka pun beranjak menuju lapak bensin. Ia pun masih menjumpai kain mori setengah meter masih berada di atas lapaknya itu. “ Jan-jane sapa sing ndokok kain iki?” Guman Lik Soka.

“Bu ... bune. Apa kowe ngerti sing ndokok kain putih neng lapak bensin?” Tanya Lik Soka pada Ndinem, istrinya.

“Kain apa pak?”

“ Iku lho reneo. Tilikana dewe.”

Ndinem pun menuju ke tempat suaminya.

“Ora ngerti sing ndokok sapa iku, Pak. Sekirane menggangu diambil mawon.” Kata Ndinem kepada suaminya.

“ O ya wis Bu. Ben di situ wae. Malah beneran ngga tutup lapak. Ora kepanasan.” Jawab Lik Soka kepada istrinya.

Kembali di sudut makam tempat Panidi berjualan.

“ Di. Pohunge enek ra?” Kata Kang Birin ke Panidi.”

“ Wah. Akhir-akhir iki aku ra doodolan pohong, Kang Birin. Kanggo pertemuan lagi ya Kang Birin?” Jawab Panidi.

“ Dudu urusanmu, aku arep pertemuan utawa ora iku urusanku. Kowe rasah melu-melu, Di.”

“ Ohh iya... iya Kang. Maaf kang.” Sahut Panidi gelagapan mendengar jawaban Kang Birin.

“ Nek gak enek pohong, jualan tela ra?” Kata Kang Birin lagi.

“ Wingi akeh Kang. Tapi wis diborong wong liya. Katane ya kanggo pertemuan calon lurah ki.”

“ Wehh. Kowe ngerti sing mborong, Di?” Piye wonge?”

“ Sekali lagi maaf, Kang. Aku ora sempat merhatekne. Soale kaya kesusu ngana kang.”

“ Duh. Gek sapa iki? Apa Romdoni ya? Masak bapak golek kader pemenangan neh? Pikir Kang Birin.

Kang Birin pun kemudian meninggalkan Panidi dengan sejumlah pertanyaan itu. Ia pun berpikir dan berupaya mencari jawabannya.

Di suatu tempat, Arul pun sedang menyusun sebuah strategi jitu. Strategi untuk menjebak targetnya. Ya. Target Kang Birin dan Romdoni. Sebenarnya ada satu lagi, Pandoyo. Namun, Arul mengurungkan niatnya. Karena Pandoyo adalah Pakliknya.. Karena bagi Arul. Lik Pandoyo adalah penyelamat keluarganya dari keterpurukan ekonomi. Akibat ditinggal ayahnya. Arul sejak kecil seorang yatim.  Ia tidak ingin membuat Lik Pandoyo celaka.

“Lik Yo. Apa masih ikut pengkaderan bersama Kang Birin?” Tanya Arul kepada Paklik Pandoyo.

“ Masih Rul. Tapi ya tidak fanatik. Ya mung siap semisale ada tugas dari Kang Birin.” Jawab Pandoyo.

“ O ... ngana to Lik!”

“Lha memang ada apa, Rul?” tanya Padoyo.

“ Ora enek apa-apa  Lik Yo. Ya mung takon tok.” Jawab Arul neng sikap tersembunyi itu.

Seolah lampu hijau Arul akan kata-kata Pakliknya yang setengah mendukung calon lurah. Arul menjadi senang karena ada kemungkinan, Pakliknya bisa saja beralih mendukung calon lurah satunya. Arul pun menyerahkan sepenuhnya kepada Pakliknya untuk memilih siapa yang akan didukung sepenuhnya. Arul pun tidak akan memengaruhinya. Arul hanya ingin Pakliknya tidak salah menentukan calon lurahnya. Tidak ingin terjerumus sesal pada akhirnya.

“ Romdoni ada, Yu Jinah?” Tanya Kang Birin pada istri Romdoni.

“ Oh kowe to Kang Birin. Kang Romdoni dua hari iki belum pulang. Katanya tugas pengkaderan bareng sampeyan ki.” Jawab Yu Jinah.

“ Weh. Ora ki Yu. Kae ya gur sedina ki.’

Walah gek nengdi ya kang?”

“ Oh ya wis Yu. Coba tak golekane?”

“Oh ya .. ya Kang. Maturnuwun.”

Di gubuk sawah di perbatasan desa. Seorang laki-laki terduduk di kursi. Kaki dan tangannya terikat tali. Napas terlihat tersengal-sengal. Roman wajahnya seperti terlihat ketakutan.

“ Uwis ... uwis aku kapok. Lepasna aku. Janji aku ora arep melu-melu neh.” Sambat lelaki itu yang tak lain adalah Romdoni.

......................................................................................

Mas Santo kembali mem-booting laptopnya. Entah inspirasi apa lagi yang ingin ketik. Yang pasti ia ingin mendeskripsikan suasana tempat itu. Seorang tokoh laki-laki sedang merintih, menangis, dan meminta dilepaskan. Kebetulan tempat itu sepi, hanya bentangan sawah yang dibatasi oleh sebuah makam keramat. Orang pun jarang singgah.  Para petani pun juga tak menghampiri untuk sekadar istirahat rolasan atau melampiaskan panggilan alam. Entah siapa yang mensettingnya, di gubuk itulah ornamen-ornamen sakral terpasang. Beberapa replika menakutkan, dan lebih menyeram lagi tergantung replika dua pocong yang tiba-tiba seperti hidup kala ditiup angin. Mas Santo menutup ketikan terakhirnya pada pencapaian alinea ke-300 tulisannya.

“ Mangga Lik Soka sareng teng mushola.’’

“ Nggih Mas Santo. Mangga mlampah kalih salawatan”

Di lain hari. Suasana desa geger. Romdoni menghilang. Terlebih Kang Birin yang kehilangan partner, sekaligus kader pentingnya itu.

 “ Awake dewe mesti kudu ambil tindakan, Pan.” Kata Kang Birin membuyarkan suasana hening di tempat biasa mereka merencanakan pengkaderan calon kepala desa itu.

“ Apa wis genah Kang. Sing gawe masalah ki Kang Dirun lan kanca-kancane. Kudu akeh bukti kang. Ndak malah saya dawa masaalahe. “Sahut Pandoyo berusaha mencegah Birin.

“ Ora perlu bukti Pan. Jelas-jelas iki mesti ana kaitan karo rival awake dewe. Kudu sat set.Ndak tuman keterusan?”

“ Ora sah kesusu sik Kang. Masalah iki kudu njakuk pertimbangan bapak sik. Mengka ndak malah gawe gela lan ngrugeke pencalonan bapak, Kang. Iki ya gur saran. Ben bisa apik kabeh.”

“ Iya kang Birin. Aku ya setuju karo sarane Pandoyo. Piye nek Kang Birin matut karo bapak sik. Piye amrih saene.” Sambung Ruslan karo rada gagap.

Kang Birin pun terdiam sejenak.

“ Ya wis. Sementara iki awake tetap pada tugas-tugas wingi. Masalah Romdoni. Tak ketemu bapak sik. Mudah-mudahane cepet ana solusine. Pan kowe saiki melu aku ngadhep bapak. Liyane Lanjut neng poisisine dewe-dewe,

“Nggih siap kang  laksanaken” sahut mereka serentak.

......................................................................................

Di rumah Yu Jinah.  Yu Sar tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Selain meminta Yu Jinah untuk tetap sabar dan selalu berdoa. Agar Kang Romdoni segera ditemukan. Yu Sar sangat mengerti kenapa Yu Jinah begitu sedih dan kehilanngan. Karena Yu Sar sendirilah yang menjadi perantara antara kisah mereka berdua kala belia. Yu Sar jugalah yang mendorong Yu Jinah untuk menerima pinangan Romdoni kala itu. Hal itu dilakukan Yu Sar. Karena sebuah balas budi. Karena Romdonilah yang telah membantu Yu Sar, saat dulu terlunta-lunta jadi TKW di  luar negeri akibat perilaku kasar majikannya. Romdoni jugalah yang membantu kepulangan Yu Sar ke tanah air.

“ Kudu tetap strong ya Nah. Mudah-mudahan Kang Romdoni cepet ketemu. Ndang bali nengomah. Nek tersesat, mudah-mudahan Gusti nuntun ndalane bali nengomah.”

“ Aamiin. Iya Yu Sar. Maturnuwun.” Jawab Yu Jinah menatap lesu ke langit-langit rumahnya.

Sejenak meninggalkan Yu Sar dan Yu Jinah. Arul sedang membuat sesuatu. Sesuatu yang membuatnya senang. Ia senang karena mampu membuat seseorang yang awalnya berani, setelah itu tratapan. Hingga ujung-ujungnya pingsan.

“ Sibuk men Le Rul. Gawe prakarya sekolah pa?” Kata Lik Soka kepada Arul yang sedang sibuk membuat sesuatu.

“Mboten sibuk kok Mbah Soka. Niki damel wong-wongan kangge sawahe Lik Pandoyo.

Pun wayahe mrekatak parine.”

“ O ... tak kira nek gawe prakarya sekolah. Ndelok kaya apa?”

Lik Soka pun mengamati sejenak wong-wongan Arul.

“ Wong-wonganmu kok bentuke ngana to, Rul?”

“ Lha pripun to, Mbah?”

“Lha iki nek di pasang nggon tengah sawah. Ora mung nguyak manuk. Nguyak wong lewat barang.” Kata Lik Soka karo mesem ngguyu. Arul pun memberi nilai plus untuk Lik Soka atas penilaian hasil karyanya. Karena itu yang ia harapkan. Agar benar-benar memberi dampak ketakutan luar biasa bagi targetnya.

Arul melakukan itu semua.  Ia hanya ingin sebuah jawaban. Jawaban atas semua yang ia pendam selama ini. Arul hanya ingin tahu semua. Inilah caranya.

......................................................................................

“Aja hal-hal sing ora penting kudu disampekake nengaku Kang Birin. Iku mung masalah cilik kang ora perlu digawe geden-geden. Aku yakin. Kang Birin lan kanca-kanca liyane bisa ngrampungake.”

Begitulah kira-kira yang menjadi jawaban bagi Kang Birin dari bapak. Ia pun mulai menggali strategi. Sebuah strategi untuk mulai mencari partnernya, Romdoni.

“Pan. Kira-kira enek pira kanca-kancane dewe?” Tanya Kang Birin kepada Pandoyo.

“ Sik kang tak eling-elinge jumlahe. Kayake kabeh ana 25 wong kang. Sepuluh sing kader terang-terangan, lima ngawas-ngawasi, lima bagean nyusup. Terus sing disiapke kanggo serangan fajar dijatah wong lima kang.”

“ Kira-kira enek sing isoh tak gerakke mbantu nggoleki Romdoni sapa, Pan?”

  Nek saiki sing isoh sing sepuluh iku kang. Tapi mung tinggal sanga. Amarga mas Romdoni ilang?”

“ Oh ya wis. Sing wong sanga sesuk mulai aku nggoleki Romdoni?’

“ Mangga Kang. Kula siap mawon kalih kanca-kanca.”

“ Ya wis Pan. Mulai bengi ayo awake dewe gawe peta pencarian Romdoni.

“ Nggih Kang Birin. Siap.”

Deras hujan malam ini menambah begidik. Dingin mulai menjalar di badan. Kang Dirun pun mulai melepas ikatan sarungnya dan memakainya kembali untuk menyelimuti badannya. Perapian kecil di pos kadernya pun meredup, kian menambah suasana mencekam. Kang Dirun pelan-pelan merebahkan badan. Sebentar-sebentar menggeliat ke kanan ke kiri.  Memejam dan membuka mata pelan-pelan. Hingga akhirnya.

“ Om Dirun. Dereng sare?”

Kang Dirun menggeliat badan mencari dan berusaha menjawab suara itu.

“Dur ... ung.” Jawab Kang Dirun kemudian terdiam.”

......................

Sementara itu di rumah Mas Santo. Ia  terlihat di teras. Menatap suasana desa pagi ini. Seperti biasa. Ia mulai mencari-cari inspirasi untuk sambungan tulisannya.

“ Lagi santai Mas Santo?” Sapa Pak RT melintas jalan depan rumahnya.

“ Nggih Pak Sido. Lagi wonten kegiyatan napa niki Pak?”

“ Belum ada kegiyatan napa-napa Mas. Hanya ingin mendata warga untuk sosialisasi pilihan lurah benjing mas. Mas Santo dan keluarga sampun di data belum?”

“Wah kesupen Pak. Kula malah dereng ngertos. Mangke coba kula tangletke Ibu. Mungkin sampuan”

“ Oh nggih ... nggih Mas. Ya sudah mas saya lanjutkan laku dulu.”

“Oh nggih Pak. Mangga.”

......................

Di gubuk tempat Romdoni berada.

“Tulungen ya. Culna aku. Aku kapok tenan. Mesakna aku ya.” Rintih Romdoni menyayat.

Makin lama makin lama rintihan Romdoni makin keras. Hingga sekali-kali berteriak keras. Hampir saja mampu mengalahkan lengkingan suara kinjeng. Namun tiba-tiba.

Gedebug!!!

Suara itulah yang kemudian membuat rintihan Romdoni terhenti. Suasana pun kembali sunyi.

“Ra urung ya meneng to. Bengak-bengok marai ngganggoni liyane.”  Terdegar sayup-sayup cekikikan anak kecil yang perlahan meninggalkan gubuk itu. Ia terlihat puas dengan hasil karya wong-wongan sawahnya.

.................................

Di sudut makam desa itu.

“ Kang ... kang Dirun. Tangi kang .... tangi kang.” Pinta Panidi kepada Dirun agar segera bangun. 

“Huaahhh .... “ Geliat kang Dirun disertai menguap. “ Wehh ... kowe to Di. Eneng apa esuk-esuk wis nggugahi wong?’’

“Ngapunten tenan Kang. Ngganggu sampeyan. Ini lapak mau tak buat nggelar dagangan kang.” Jawab Panidi mindhak-mindhik.

“ Lapak apa? Iki nggonku turu DI?”

“Ampun Kang. Coba sampeyan pirsani. Sahut Panidi menyakinkan.

“ Ora guyon, lho Di.

“Mboten kang. Saestu. Mangga dipirsani riyin kang. Jawab Panidi.

Kang  Dirun pun melakukan apa yang dikatakan Panidi.

“Wehh ... kok isoh aku tekan kene Di? Padahal aku mau bengi turu neng posku. Kok isah. Aja-aja kowe sing mindah Di? Sahut Kang Dirun rada nesu.

“Mboten Kang. Saestu mboten. Kula sampai mriki. Sampeyan wis tekan mriki.

Sejenak Kang Dirun merenung tentang tingkahnya ini. Namun, tiba-tiba ...

“Masak Di ... gek-gek sing mau bengi?

“Mau bengi apa kang?” kata Panidi penasaran.

“Ora ... ora ... ora mungkin Di. Ora mungkin?

“Napane sing ora mungkin, Kang?” Sahut Panidi makin penasaran.

Sejenak mereka berdebat kecil.

“ Bayeme enek Di?”

Keduanya menengok ke belakang.

“ Waaaaa .... Apa iki Di ....?”

“Mbuh Kang Dirun ....?” sahut Panidi bersamaan. 

Suasana menjadi hening  seketika itu.Ndinem pun bengong melihat keduanya pingsan.

“Gek ngapa doan. Kok di semaput? Guman Ndinem sambil membenahi mukenanya sehabis dari Subuhan.

......................................................................................

“Pak ... Pake. Tulangana Kang Dirun karo Panidi kae Pak.” Pinta Ndinem pada Lik Soka, suaminya.

“ Lha ngapa to Bu, Dirun karo Panidi?” Tanya Lik Soka pada istrinya.

“ Mbuh ki Pak. Ngerti-ngerti semaput, pas aku takon bayem.” Jawab Ndinem.

“ Oh ngana. Aku takrono. Tulung ambilna minyak anginku Bu.”  

Lik Soka menuju lapak Panidi. Lik Soka lalu membaukan minyak wangi di hidung Kang Dirun dan Panidi agar mereka siuman.

..................................

Di lain tempat, Kang Birin, Pandoyo,  dan beberapa orang terlihat menyusuri beberapa tempat yang  tergambar di peta pencarian Romdoni.

“ Apa mungkin Romdoni nganti tekan kene Kang Birin? Daerah kene ki ya gur ana lahan sawah tok.

“ Wis ora perlu kakehan pertanyaan Pan. Awake dewe manut peta sing wis digawe wingi. Tur panggon kene ki sing durung keambah. Liyane wis kabeh, Pan.”

“ Oh ya .. ya kang. Maaf lancang.

Kang Birin pun melanjutkan pencariannya. Sepasang mata sedang mengawasi mereka dari balik rimbun padi yang merunduk karena memasuki masa panen.

“Wah. Bakal konangan iki. Aku kudu cepet sadurunge kedhisikan.” Guman orang tersebut mulai mindhik-mindhik berlalu.

.........................................

“Di. Piye rasane awakmu? Tanya Lik Soka kepada Panidi yang mulai siuman.

“Awak kula mboten napa-napa Lik Soka. Kula gur tumut semaput amarga Kang Dirun marai.”

“ Lha perkarane apa nganti melu-melu barang ki?”

Panidi belum sempat menjawab ketika tiba-tiba saja Kang Dirun juga mulai siuman.

“ Jan-jane ora enek masalah apa-apa Mas Soka. Ya mung kaget, amarga kurang fokus. ”

Kang Dirun pun mulai bercerita awal mula kejadian itu. Mulai saat malam di pos kadernya hingga semaput di lapak Panidi.

“ O ... ngana to dik Dirun.” Potong Lik soka.

“ Iya mas Soka. Aku kok dadi melu-melu mikirne bab awal sing prenah dadi kisah viral si Sum wingi. Padahal ora nggagas blas.”

“ Pancen dik Dirun. Akhir-akhir iki akeh kejadian kang angel dinalar. Kadang aku ya mikir, apa iki ana kaitane karo gelaran pilkades sing meh dianakake neh desa kene.

“ Mungkin Mas Soka.”

Aku jane kliru nek takon ngene iki. Masalae kowe ya melu ngader dik Dirun.”

“ Iya Mas Soka. Ora ngapa-ngapa Mas. Tapi sakmeluku ngader lurah pilkades iki. Blas ora ana niatan bakal nggunakake cara-cara sing ora bener mas Soka. Saestu mboten. Tur maneh. Wong-wong kang melu mbyantu aku ya wis tak pesen kudu migunakake cara-cara kang sehat. Ora perlu lara ati, serik, nesu amarga godaan calon liyane Mas Soka.”

“ Iya dik Dirun. Tapi iki konstelasi politik kang maneka warna carane. Sing kadang bener bisa keblasuk sing ora bener, sing gunake cara ra bener tambah saya ra bener. Dadi kudu bisa ngartikan neng awake dewe-dewe.”

“Bener iku Mas Soka. Aku ya mung sakmadya. Mung pingin desa iki bisa nemu pimpinan kang bisa srawung lan mengerteni apa kang dadi bot repote warga desa kang dipimpinnya. Uga sakwise pilihan iki bisa bali kaya biasane maneh.

“ Aamiin. Iya dik Dirun. Iku ya dadi kekarepanku lan warga liyane.

........................................................................

Di lain tempat. Di sebuah pematang sawah.

‘”Lik Yo lagi madosi napa?” tanya Arul.

“ Weh kowe Le Rul. Ngapa nengkene?”

“ Kula nembe nguyak manuk. Dikongkon ibu mbantu panjenengan.” Jawab Arul. “ Lha jenenan napa nggih ajeng teng sawah?

“ Ohh. Ora Le Rul. Iki aku karo Kang Birin meh nggoleki Om Romdoni. Kowe ngerti ora?”

Arul pun mencoba untuk menyembunyikan keberadaan Romdoni. Namun ia urung karena selama ini, Ia sama sekali belum pernah bohong pada Lik Pandoyo, yang sudah ia anggap sebagai pengganti ayahnya.

“ Oh ... Om Romdoni. Wingi ngerti kaya mlaku ngalor, Lik.

“Ngalor ngendi Rul?”

“Nika  lho lik. Arah ke batas desa.” Sambung Arul lagi.

“ Weh. Iku kan arah makam keramat. Meh ngapa deke?”

“Ngapunten Lik Yo. Kula nggih mboten pati mudeng.”

“ Oh ya wis Le Rul. Tak coba rono. Nek kesel ndang bali wae ya.”

“Oh Nggih Lik Yo.”

--------------------------------------------------------------

Pandoyo pun segera berlalu meninggalkan Arul.

Di sisi lain. Kang Birin pun standby di posko pemenangan sambil mengamati peta pencarian Romdoni. Kang Birin tidak menyangka sudah hampir lima hari Romdoni menghilang. Kang Birin merasa sangat kehilangan. Kang Birin pun terbayang kala Romdoni telah berjasa atas hidupnya. Romdoni juga yang telah menolongnya saat hampir saja menjadi bulan-bulanan beberapa bang plecit karena ketidakmampuannya membayar tunggakan utangnya.

“ Gek nengendi kowe Rom?” Guman Birin sambil mengembuskan rokok kreteknya.

---------------------------------------------------

“Dua Minggu lagi pesta akan terjadi. Aku harus mempersiapkan segalanya untuk memantau proses ini. Mudah-mudahan semua lancar dan terpilih pemimpin terbaik desa ini.”

Suara sumbang Mas Santo di depan layar laptopnya. Ia pun mulai membuat kotak kosong dalam tulisannya. Ia sengaja membuatnya untuk sebuah kesimpulan akhir. Akhir dari kisah konstelasi pilkades di desanya.

.........................................

Di lapak Panidi lagi.

Lik Soka pun telah kembali ke rumahnya. Tinggal Kang Dirun dan Panidi berbincang tentang kejadian semaputnya.

“Kayake bener apa sing wingi viral kae, Di?” kata Kang Dirun kepada Panidi. .

“Bener napane Kang Dirun? Tanya Panidi penasaran.

“Virale si Sum Di?”

“ Masak Kang Dirun. Iku kejadian wis suwe lho Kang. Tur ya wis ora seviral kaya wingi.”

“Iya Di. Aku ya percaya. Tapi mau bengi kaya-kaya enek asing nggugah aku, Di. Persis suwara wadon.”

“ Tenane lho kang?”

“ Janne ora Di. Gur sing tak pikirke kenapa bar iku aku tekan lapakmu?”

“ Aneh. Tapi aja gawe-gawe lan nyangkute peristiwa iku maneh Kang.”

“ Tapi tenan. Kaya tenanan wujude di.

“ Wis ora ... ora ora mungkin ...

Kang Dirun dan Panidi pun sahut-sahutan dan kemudian pecah lagi perdebatan lagi antara keduanya.  Tiba-tiba saja.

“ Kangkunge tasih,  Lik Di?”

Keduanya pun menengok ke belakang.

“Entekkkkk ....” , sahut mereka banter dan disambut tangisan kekejer Lia anak Pak RT Sido, yang baru duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.

......................................................................................

Kang Dirun dan Panidi pun merasa lega. Karena sampai beberapa jam setelah peristiwa tangisan kekejer Lia tidak ada efek setelahnya. Walaupun mereka sempat kepikiran bakal geger geden karena mesti berhadapan dengan Pak RT Sido, yang bisa saja membawa persoalan tersebut ke ranah hukum dengan tuduhan tindak kekerasan terhadap anak di bawah umur.

“ Syukurlah Di. Awake dewe ora didukani Pak RT.” Kata Kang Dirun pada Panidi yang sumringah kembali setelah mendengar kata-kata Kang Dirun. “ Ya wis tak bali sik. Tutugna nggon mergawe neh.

“ Oh nggih .. nggih Kang Dirun. Jawab Panidi.

Kang Dirun pun berlalu meninggalkan lapak Panidi. Panidi pun mulai kembali pada aktivitasnya. Yah. Mulai menjajakan dagangan sayurnya siang itu. Sebuah hal yang mungkin jarang dilakukan pedagang sayur karena hari sudah beranjak rolasan.

------------------------------

Di gerbang makam keramat di batas desa. Pandoyo tertuju pada sesosok tubuh yang bersandar di dalam gerbang makam. Pandoyo terkejut setelah mengetahui bahwa sesosok tubuh itu tidak lain adalah Romdoni yang sedang dicarinya.

“ Lan. Coba kowe mature Kang Birin nek Mas Romdoni wis ketemu.” Pinta Pandoyo kepada Ruslan kawan kader yang ikut mencari keberadaan Romdoni. “Aku tak nengkne karo njaga mas Romdoni dan situasine.” Tambah Pandoyo lagi.

“ Oh iya Lik. Tak langsung budhal.” Jawab Ruslan segera menuju pos kader tempat Kang Birin standby.

------------------------------

Sementara itu di balai  warga. Pak RT Sido dan panitia pemilihan yang ditunjuk di desanya sedang rapat untuk mempersiapkan sarana dan prasarana untuk pemilihan kepala desa.

“Kira-kira persiapan apa sing kurang Mas Santo?” Kata Pak Sido kepada Mas Santo.

“Kula kinten sampun cekap Pak Sido. Untuk sarana dan prasarana lainnya, nanti disiapkan mawon sebelum hari H pencoblongan.

“Oh nggih Mas Santo. Biar itu nanti saya kordinasikan dengan yang lainnya.”

“ Nggih Pak RT. Untuk hal-hal teknis lainnya nanti menunggu arahan dari kabupaten riyin Pak. Sambung Mas Santo.

“ Inggih Mas Santo. Siap koordinasi mangke,

------------------------------

“Nengdi Romdoni, Pan?” Tanya Kang Birin pada Pandoyo.

“ Masih di dalam makam Kang.” Jawab Pandoyo.

“ Piye sih urip apa ora?”

“ Wah kadose drung mudeng Kang. Kula dereng memastikan. Nunggu sama Kang Birin riyin. Sambung Pandoyo lagi. Dalam hati sebenarnya Pandoyo takut, bukan karena ingin menjadi saksi utama akan keadaan Romdoni, tetapi karena suasana makam mungkin dirasa Pandoyo lebih mencekam dan lebih menguasai pikirannya kala itu.

“ Ya wis gage mrana. Dipastekne sik.”

“ Nggih kang. Sumangga riyin.

Kang Birin dan Pandoyo pun segera menuju ke dalam makam  untuk menghampiri tubuh Romdoni yang masih bersandar di gerbang makam.

“Mas ... Mas Romdoni. Piye awakmu mas? Kata Pandoyo sambil menggoncang tubuh Romdoni yang terasa masih ada kehidupan di dirinya.

Tak ada jawaban dari Romdoni. Akhirnya Kang Birin pun meminta Pandoyo dan Ruslan untuk menggotong dan membawanya ke pos kadernya.

................................

“ Nah. Gage ke tempate Kang Birin. Bojomu wis ketemu. Ayo gek ndang! “ Pinta Yu Sar kepada Yu Jinah yang baru selesai memberi makan ayam peliharaannya.

Tenane Yu Sa, Kang Romdoni ketemu?”

Iya Nah. Makane ayo gek ndang keburu ilang maneh. Ayo.... !

Yu Sar dan Yu Jinah segera beranjak menuju pos pemenangan kader calon lurahnya Birin.

................................

“Aku nengendi kang Birin?” Lirih suara Romdoni membuka awal pagi itu.

“Wis sing tenang wae Rom. Kowe wis aman nengkene.” Jawab Kang Birin mencoba menenangkan keadaan itu.

Sejenak hening.

“Coba sapa kae sing teko Rom?

“ Endi kang. Aku ra pati ketok. Tulung kon nyendhak kang.” Pinta romdoni kepada Kang Birin.

Kang Birin melambai agar orang itu mendekat pada Birin.

“O alah kowe to dik. Pangapuranen kangmasmu iki. Kesuwen ninggalke kowe.” Betapa terkejutnya Romdoni setelah tahu siapa di depannya. Maka terjadilah sebuah adegan pertemuan antara dua pasang manusia yang saling merindukan.

Namun adegan itupun hanya singkat saja.

“ Dudu sing iki, Rom. Kliru!!!.

Sahut Kang Birin sambil melepas tangan Romdoni dari pelukan Yu Sar, yang ia kira istrinya, disertai suara ngakak Pandoyo dan Ruslan.

..................................................

 

Untung saja kejadian itu cepat berlalu ketika Yu Jinah datang kemudian. Setelah melepas keriduan pada Romdoni, suaminya. Yu Jinah pun mengajak Romdoni kembali ke rumah tanpa sempat meminta penjelasan sama Kang Birin. 

“ Trus pripun Kang Birin. Apa perlu diunggahne masalah mas Romdoni iki?” Tanya Pandoyo pada Kang Birin.

“Aku durung enek keputusan Pan. Nunggu Romdoni sik perihal iki.” Jawab Kang Birin sambil menatap jauh Romdoni dan Yu Jinah kembali ke rumahnya.

“ Oh ya wis Kang. Lha trus tindak lanjute piye?” sahut Pandoyo lagi.

“ Masalah siji wis rampung Pan. Saiki awake dewe bali neng fokus utama, menangke pencalonane Bapak, Pan.”

“ O ... Nggih siap Kang.”

..................................................

“Rahasia iki tetap tak tutupi primpen Yu Sar.  Bab kedadeyan esok mau di tempate Kang Birin, Yu. Kata Ndinem di sela waktu bersama Yu Sar.

“ Iya Nem. Iku ya mung faktor ketidaksengajaan. Tapi aku njaluk aja nganti dadi masalah maneh antarane aku karo Jinah.” Aku njaluk tulung tenan Nem. Aja sampek tekan negendi-ngendi.” Pinta Yu Sar.

“ Iya Yu. Mudah-mudahan wae sing ngerti gur aku. Ben ora dadi rasan-rasan tangga-tangga teparo.”

“Iya Nem. Maturnuwun.”  

..................................................

Setelah peristiwa ditemukannya Romdoni. Masalah itupun pun berakhir. Romdoni pun pasrah saat istrinya menyerahkan secarik kertas yang ia temukan di bajunya saat kemarin menghilang. Pada intinya. Isi surat itupun yang membuat Romdoni kembali khawatir dan ketakutan apabila sampai melaporkan ke pihak terkait. Romdoni trauma akan hal itu. Ia pu  menangguhkan dan memutuskan resain dari keikutsertaan pengkaderan bersama Kang Birin.

“Ya wis ora popo Rom. Aku ya ra meksa. Tapi intine. Suk nek pas hari Hne. Aja lali bantu bapak dadi.” Kata Kang Birin pada Romdoni yang hanya dijawab dengan sebuah anggukan.

..................................................

Perhelatan menjelang hari H pencoblosan. Para kader pun standby, baik  di pos-pos pemenangan calon lurah mereka maupun di tempat lainnya. Kang Birin pun mondar-mandir sambil mempersiapkan segala sesuatu bersama kadernya. Di lain pihak, Kang Dirun pun juga sama seperti yang dilakukan Kang Birin. Ya demi kemenangan calon lurahnya masing-masing.

..................................................

Di sekitar lapak Panidi. Sejumlah orang tampak berkumpul di tempat itu. Hal ini dilakukan karena Panidi sedang cuti dodolan sayur untuk menghormati perhelatan pemilihan lurah desa ini.

“ Di. Kira-kira kowe meh njago lurah sapa?” Tanya Amran.

“ Drung bisa njagokne sapa-sapa Mran. Kayake pada abote calon loro iki?” Jawab Panidi.

“ Padahal meh tak jak botohan kowe Di. Malah drung duwe jago.” Sambung Amran.

“ Wegah Mran. Semisale wis njago pun aku ya wegah botohan.” 

“ Lha ngapa Di? Ora apik ngana?”

“ Ora masalah iku Mran.”

“ Lha apa?”

“ Ngajak botohanmu kliru panggon?”

“ Maksude?”

“ Iki lapakku Mran. Nek sampai lapakku iki dingga botohan. Padha karo gawe reged panggonku golek rezeki dodolan sayur. Ngerti!!”  Jawab Panidi ketus. “Nek kowe botohan aja neng lapakku. Golek nggon liya wae.” Sambung Panidi lagi.

“ Ya wis... ya wis Di. Aku ngerti. Tapi nek smisale pindah panggon piye?”

“ Aku nengkene wae Mran. Njaga lapakku. Eman-eman nek mengka dingga botohan wong liya.” Sambung Panidi.

“ Omong wae wegah Di. Rasah ndadak tekan ngendi-ngendi omongane. Ya wis tak botohan cedhak lapak bensin kae wae.” Kata Amran berlalu dari lapak Panidi.

“Sakkarepmu Mran. Ya gur melu dongake moga wae kowe oleh pencerahan mengka.” Guman Panidi melihat Amran telah sampai di lapak bensin, yang ternyata milik Lik Soka.

..................................................

Sejenak meninggalkan Panidi. Arul terlihat sedang berada tidak jauh tempat pemungutan suara di desanya. Ia tampak memandangi satu persatu warga yang datang untuk memberikan suaranya. Hari ini Arul menjadi netral saat pemilihan ini. Arul tidak mendapat kesempatan memberikan suaranya, karena memang belum cukup umur. Walaupun begitu, kiprahnya saat proses menuju hari H pilihan cukup diacungi jempol.

“ Ngapa kowe Rul?” Sapa Lik Pandoyo.

“ Oh Lik Yo. Lagi santai kok Lik sambil lihat suasana.” Jawab Arul.

“ Ooo

“ Lik Yo ajeng  ke TPS?”

“ Iya Rul. Meh menehi suara ngga calon lurahe dewe.Ya wis sik Rul tak rono sik.”

“ Nggih Lik Yo.”

Arul memandang Lik Yo menuju TPS. Arul berharap Lik Yo dapat menyampaikan suara dengan tepat. Tepat kepada calon lurah yang diharapkan warganya. 

..................................................

“Sapa kira-kira sing gawe wong-wongan sawah iki? Pinter lan berkarater. Cocok tak ngga mendukung pembukaan lahan pertanian di daerah-daerah.” Kata Pak Tarmuji saat melintas di depan rumah Arul.

 

...., Tersenyum sumringah di wajah Kang Birin saat terakhir surat  suara dibacakan oleh panitia pemilihan cakades. Ia pun bersorak gembira saat cakadesnya mendapatkan suara terbanyak.

“Selamat nggih Pak Suyut.” Kata Kang Birin pada cakadesnya.

“ Oh ya Kang Birin. Terima kasih juga atas kerjanya selama ini. Kemenangan ini tidak hanya milik kita, tapi juga buat semuanya.”

“ Nggih Pak Suyut.” Sahut Kang Birin tersenyum lebar.

.......................................

“ Kemenangan untuk keluarga dan kerabat juga Pak Suyut.” Guman Kang Dirun seraya mencermati deretan perolehan suara di papan suara itu ditulis. Terlihat dan menampakkan raut muka sendu Kang Dirun setelah jumlah itu tetap sama dan tak berubah sama sekali walaupun berungkali ditelitinya.

“ Nuwun ya Kang Dirun uwis mbyantu aku sakabehe nganti pas dina iki. Tulung sampaikan ke kanca-kanca kader kabeh. Ora sah sedih. Besuk nek wis rampung kabeh, Kang Dirun lan kanca-kanca pada dilumpukke nengomah. Ya wis aku tak pamit sik. “ Kata Pak Beni, cakades Kang Dirun.

“ O nggih Pak. Mangke kula sampaikan ke rencang-rencang sedaya.” Jawab Kang Dirun.

......................................................

“Panen Mran?” Tanya Panidi kepada Amran.

“ Gur sitik Di. Akeh sing ngepur kok. Tur ya ra pingin akeh-akeh. Semelang ora berkah hasile.” Jawab Amran setelah jago totohannya menang.

“ Weh. Totohan yang sih enek berkahe to, Mran?”

“Iya Di. Tak anggep berkah amarga pas ana neng lapak bensin wingi. Aku oleh pencerahan karo sing duwe lapak iku, Di ” Sahut Amran ngekek.

" O alah. Ora dadi ngapa Mran. Kowe bisa nampa pencerahan iku, walaupun durung bisa mrenahke antarane berkah sing kaya ngapa, hee" Guman Panidi karo ngacungke jempol ngga Amran.

........................................................................

Mas Santo terlihat menghampir Arul yang sedang sibuk akan wong-wongan sawahnya.

“Awake dewe wis akeh perane Rul. Saka awal nganti akhire. Ya tetap bali kaya adate. Tetap iku pilihane lan gur seputare iku wae silisilah sing nguwasine .” Kata Mas Santo di hadapan Arul yang sedang merangkai kerangka untuk wong-wongan sawahnya.

“ Nggih Mas Santo. Piya-piye hasil saged ditebak. ” Kata Arul menimpali kata-kata Mas Santo.

“ Iya Rul. Mungkin kudu ngene sik lakon neng desane awake dewe. Muga-muga suk  enek sing bisa merubah. Uga bisa nemu kang gemati, ikhlas, lan ora ana faktor titipan.” Sambung Mas Santo.

“ Mugi-mugi Mas.”

.........................................................................

Seminggu setelah pelaksanaan pilkades itu. Di sebuah rumah Pak Suyut.

“Selamat sekali lagi ya Kang  Suyut. Akhire jenengan sing menangi” Kata Pak Beni sambil tos tangan dengan Kakak iparnya itu.

“ Pada-pada Dik Beni. Sakabehe iki uga karna peran jenengan juga. Maturnuwun jenengan wis bisa ngganteni. Tinimbang ora enek calon rivalku. Lak ya coto nek kudu nglawan kotak kosong. Sekali lagi maturnuwun ya, Dik Beni.” Jawab Kang Suyut.

“ Inggih Kang Suyut. Semono uga aku maturnuwun wis dibantu akeh.” Kata Pak Beni sambil menjabat erat Kang Suyut.

“ Oh ya Dik Beni. Aku duwe rencana besuk sakwise pelantikan. Aku pingin ngadake syukuran. Nek isoh Dik Beni rawuh. Uga kaya Kang Dirun lan kanca-kanca kabeh diajak mrene.”

“ Nggih Kang. Tapi ngeten kang. Apa mboten curiga mangke warga. Semisale kula lan kanca-kanca ngumpul bareng saksampune pelantikan.” Tanya Pak Beni.

“ Wis aja digawe beban Dik Beni. Gur masalah ngana gampang mengka carane.” Jawab Pak Suyut dengan tertawa khasnya. “ Ngene Dik. Anggepen wae. Awake dewe nganake rekonsiliasi lan baleke suasana wingi sing mungkin rada bedha. Supaya bisa adem lan bali kaya lumrahe, Dik.” Tambah Pak Suyut sekali lagi

“ Oh nggih pun Kang. Kula manut mawon rencana panjenengan. Moga-moga lancar pelantikan benjing lan syukuran kalih rencang-rencang saged kelaksanan Kang Suyut.”

“ Sip Dik. Ya wis kono gek diombe kopine karo disambi panganan sakanane" Sahut Pak Suyut menyilakan Beni.

........................................................................

Lain hari di rumah Arul.

“Le Rul. Ayo ndang adus wis Sore.” Pinta Yu Sar kepada Arul di depan rumahnya.

“ Nggih Mbok. Sekedhap malih kula adus.” Sahut Arul kepada ibunya.

“ Oh ya wis. Aja kesuwen selak wengi. Adem” Kata Yu Sar lagi.

“Oke Mbok.” Jawab Arul yang melentikkan jempolnya.

Dalam duduknya. Lik Padoyo menyapa Arul ketika pulang dari sawahnya.

“Lagi ngapa Le Rul?”

“ Ohh Lik Yo. Niki lagi leren kok Lik” Jawab Arul.

“ Lha apa wis rampung pesenane Pak Tarmuji wingi?”

“ Sampun Lik Yo. Tinggal finishing mawon.” Jawab Arul sambil melipat kain spanduk di di depannya untuk bahan menyelesaikan pesanan wong-wongan sawahnya.

“ Iku spanduk apa Le Rul? Kok amba men?”

“ Oh niki spanduk sing kula copot wingi teng ngajeng kelurahan”

“Lha apa wis ra kanggo Rul?”

“Kadose sampun Lik Yo. Kayake ya gur kangge pelantikan wingi mawon.”

“ Oh ya wis ngana.”

“ Oh ya Lik ya ajeng tanglet sekedhap saged?”

“ Takon apa Rul? Kok sajak serius men.”

“ Lik Yo saged ngartekna tulisan ing spanduk niki?”

“ Tulisan apa?” Pinta Pandoyo.

“ Niki Lik. Wonten tulisane "Rekonsiliasi, (gambar mata), terus mu", niku. Maksude pripun Lik?”

Arul memperlihatkan tulisan itu kepada Pandoyo, Pakliknya. Sejenak berpikir dan menelaah kata-kata di spanduk itu.

“ Le Rul. Ora kabeh akhir iku bisa nyenengeke, kadhang ana sing trima lan ana sing ora.  Ora kabeh bisa gawe puas. Dadi kudu disikapi kanthi legawa. Lan bla ... bla ... bla” Jawab Pandoyo menjelaskan pada Arul.

Arul pun mendengarkan Pakliknya dengan saksama.  Ia pun mulai mengerti dan mencerna hal-hal baik mana yang dipilih untuk hidupnya. Sembari ia pun membersihkan kata demi kata di spanduk itu dan hanya meninggalkan sebuah simbol mata menghadap ke atas di lipatan spanduknya. Sebagai sebuah penanda, bahwa di ataslah kebenaran itu yang sesungguhnya.

..........................

Sejak membicarakan sesuatu hal bersama Arul di lain hari. Di meja kerjanya, Mas Santo mulai membuka kembali laptopnya. Menggerakkan kursor mouse untuk menemukan kotak yang telah ia buat kemarin sebagai tempat menorehkan sebuah kesimpulan. Mas Santo pun mulai menyimpulkan dan merencana sesuatu  untuk lanjutan tulisannya.  Ia ingin secepatnya menjadi cerita yang mudah dipahami, tidak hanya isinya namun juga bagaimana membaca dan memahami makna yang tersurat maupun tersirat di dalamnya.

“...., Kisah ini akan berlanjut, di mana semua yang berperan akan menemukan identitasnya dan akan diuji lewat kisah mereka masing-masing. Mereka akan kembali disatukan lagi selanjutnya, ....”

Eksperimental Sinopsis “Arwah Politik Selasa Kliwon”

(Tokoh hanyalah khayalan belaka, isi cerita fiktif)

Next Story:

Eksperimental Sinopsis “Politik Adem Rebo Legi”

Curhatan Warga Desa

Ironi: Galengan* ROSID WURYANTO · SABTU, 12 OKTOBER 2019 ·1 MENIT   ..., “ Ki Lurah, cukup satu saja permintaan kami, embung !!! Janga...