Kreteg Sepur Dul Kali
"Mbah, ora duwe gambaran sing jelas bab kreteg ini, le.
Ya mung krungu-krungu jare akeh prastawa sing ana sakiwatengene kreteg."
"Prastawa iku apa, mbah?"
Seperti kebiasan kecilnya bermain di rel kereta dekat lapangan itu.
Karmono mulai tahu.
Selintas pandangnya ke arah selatan.
Terlihat sebuah kreteg sepur.
Yah. Jembatan kereta Ska-Wng yang melintang di atas Kali Samin.
Kreteg inilah yang menghubungkan dua wilayah.
Karmono menyebutnya, lor kali dan dul kali.
Masa kecilnya hanya sedikit sekali melintas di situ.
Kala itupun juga saat sakit, priksa ke klinik Jombor.
Yang kala itu dan mungkin sekarang masih berperan besar
bagi kesehatan masyarakat sekitarnya.
Di dul kali itulah juga, Karmono kecil mbantu kanca di pematangnya.
Sekadar mencabut kayu lanjaran, melipat plastik, dan juga mengisi polyback untuk tanam melon selanjutnya.
Di sela tawa kami bersama kawan-kawan kecilnya di situ.
Yang pasti, kreteg ini memiliki kisah bagi orang-orang yang melintasinya.
Sebelum dan sesudah berdirinya jembatan baru di sebelah timur kreteg sepur ini.
“Prastawa iku kadadeyan kang ana ing kiwa tengenmu. Kang kudu dijipuk rasa lan kawruhe kanthi temen. Aja dadi nelangsa lan ambyar ing uripmu menawa ana prastawa kang nrenyuhke.”
“ Insyallah Kula pun bakoh, Mbah."
(19/01/’22)
Eksperimental Sinopsis “Sajen Tengah Jalan”
Watu Kenteng TK Inpres
"Wektu iku ana watu prasejarah nengarep inpres, Le.
Saben esok kadang ana duwit sajen neng watu iku.
Ya ana sing dolanan kana disambi ngenteni gurune rawuh."
"Lha saiki kok ra ana, mbah?"
Kata “inpres” belum terlintas dalam pikiran Karmono kecil.
Ia hanya tahu kata “pres” sebagai gambar kertas yang bisa di tempel.
Sebagai teman “umbul” dengan latar belakang Gunung Aktif sebagai cap produksinya.
Ya. TK inpres. Itulah awal ketika Karmono belajar Calistung.
Sebuah pengetahuan pertama demi meraih masa depannya kelak.
Bagi Karmono, tempat plorotan di halaman adalah nuansa bermainnya.
Atau sekadar berlindung dari terik matahari, saat dihukum karena terlalu ramai di kelas dan membuat kegaduhan waktu itu.
Begitu juga, watu prasejarah di halaman samping barat.
Sebagai sebuah target pagi, berjemur di bawahnya dan menyapa traktor sawah lewat .
Atau sekadar melihat tatanan sajen lengkap dengan isinya.
Baginya itu asyik, di tengah ketidaktahuan maksud sajen ditaruh di batu itu.
Baginya pun juga sudah lelah bertanya, setelah jawabannya diulang sama.
“Tak jawab tahun ngarep, le.
Tapi ora janji Simbah.”
“ It’s Ok. Mbah”
Eksperimental Sinopsis “Sajen Tengah Jalan”
Watu Lumpang Tengah Tebon
“Setiap dipindah saka tengah tebon, pirang dina mesti bali neh, le.
Tur jare awan wengi akeh sing krungu suara banter saka watu iku.
Dadi da wedi nek arep neng tengah tebon”
“Berarti angker ya, Mbah?"
Sejak Karmono kecil mengorek kisah perburuan percil di wetan kali. Kisah ini berlanjut.
Selain panorama persawahan, tempat ini dulu juga terdapat hamparan kebon tebu. Walaupun berbeda arti, Karmono menyebutnya sebagai“tebon”.
Tebon ini jare simbah adalah warisan dari tuan-tuan tanah yang dipercaya londo kala itu. Setelah londo kabur kanginan karena terlalu srakah atas kuasa wilayah Indonesia (wacanen sejarah perjuangan bangsa Indonesia), kemudian dikelola pihak yang berkepentingan. Karmono kecil kerap menghabiskan nuansa di tebon itu. Baginya bermain klethek tebu, mencari glagah (kembang tebu) dan batang tebu yang roboh adalah kesenangan saat itu. Walaupun ujung-ujungnya playon, setelah terdengar sempritan atau dentum “klonthang” di tengah tebon.
Karmono sebenarnya tahu itu tanda kalau Mandor tebu sedang sidak tebon. Karena suara sempritan jelas terdengar. Namun, suara “klontang” menjadi sebuah tanda tanda tanya dan keheranan Karmono sampai saat ini.
Ada yang bilang itu adalah suara dari watu lumpang di tengah tebon. Namun, ada juga anggapan itu adalah suara pentungan mandor yang sengaja ia pukulkan untuk mengusir atau menakuti orang-orang yang sengaja masuk ke kebun tebu.
Bagi Karmono, bukan itu yang ingin ia perdebatkan.
Tetapi, ia hanya menaruh harapan bagi dirinya atau yang lain “Ayu lan bagusmu kalah manis karo hasil tebon. Mula iku nek ngrasake wedang pait uripmu, aja nganti lali nambahke gula dingga ngregengke.”
“Ora angker le. Ya mung nek njipuk barang utawa kasil wong liya kanthi sengaja lan ora nembung iku tindakan sing ora dibenerke."
“Lha wis kebacut ki, Mbah”
“Ora dadi ngapa le. Sing mbiyen wis mbiyen.
Saiki penting nek kowe pas gawe wedang legi lan lelaku apa wae, aja nganti lali ngucap sokur lan njaluk ngapura marang Gusti.”
“O … Nggih mbah.
Eksperimental Sinopsis “Sajen Tengah Jalan"
Swara-Swara Mbarongan
“Kadadeyan swara iku jan-janne ora tau digatekne, le.
Tapi samsaya suwe saya banter. Dadi nek pas krungu swara iku. Pada sawang-sawangan, siyap-siyap, trus playon pating gedebugan."
Lha pa medeni to, mbah?”
Begitu kiranya suasana yang tergambar pada diri Karmono.
Orang tidak banyak tau tentang keseharian sorenya.
Kecuali oleh teman sebayanya yang mungkin juga masih mengingatnya.
Golek pungutan woh mlinjo, mencari munggur sangu nonton wayang, atau mencari isi buah ketepeng di kebon sekitar wetan kali.
Ya lagi-lagi urusan memamah biak ketika menemukan semua itu.
Baginya keasyikan itulah berbayar dengan suara-suara pemilik kebon yang harus diterima sebagai risiko.
Tidak hanya itu suara misterius di sudut kebon (barongan) pun tidak luput terdengar mereka.
Dan itulah yang sekarang coba ia jelaskan.
“ Ora medeni, kok le. Ya mung manuk.”
Jenenge Truwok atau Kareo Padi (Amaurornis phoenicurus).
Mbiyen kerep diarani “sribombok”
Eksperimental Sinopsis “Sajen Tengah Jalan”
Gundukan Tanah Timur Lapangan
..., “Aja
dilungguhe, le.
Iku ana isine, ndak
kenek sawan.”
(Jangan diduduki
nak, itu ada isinya, nanti bisa kena penyakit)
Napa nggih, mbah?
(Apa hiya, Mbah)
Begitulah Karmono
melewatkan masa kecilnya.
Masa kecil yang ia
isi dengan bermain sepak bola di lapangan desa.
Karmono pun dengan
riangnya menyambut kereta api via Solo-Wonogiri di dekat lapangan itu.
Sempat pula ia
bermain di rel kereta, sambil mencari batu pipih untuk bermain gacokan umbul
(permainan taruhan gambar) .
Mencari batu ajaib
yang bisa timbul di air (batu apung-red) di bantaran kereta. Atau sekadar
meniti rel meniru gerak pesawat terbang.
Walaupun sekarang ia paham, malah mirip adegan mesra Jack dan Rose di film
Titanic.
Di situ pula,
Karmono menanti arah bola sepak. Walaupun berakhir dengan pergumulan di depan
gawang. Karena terbiasa setelah hujan, kondisi gawang menjadi genangan.
Begitulah kesenangan itu ia gambarkan.
“ Mbah ya gur meling, iku pesene
mbah-mbahmu mbiyen, aja diterak.
Apa maneh nek udan, ndak kejeglong lan
kejlungup.”
(Itu pesannya kakek nenek dahulu, jangan
dilanggar)
Apa lagi setelah hujan, bisa terperosok
dan terjungkal)
“Nggih
mbah. Kula manut welinge”
(Iya Mbah. Saya patuh pesannya)
Eksperimental
Sinopsis “Sajen Tengah Jalan”
Wit Lo Pinggir Kali Samin
..., “Akeh wong keli
slamet lan ketemune ana sekitar wit iki, le.
Wit ki bertuah.
Akeh sing percaya tuahe.”
Percayane piye,
mbah?
Lomban begitu Karmono menyebutnya
sebagai diving.
Sebuah hobi
sehari-harinya selepas menuntut ilmu di SD di sebelah utara Kali Samin.
Sepanjang aliran
ini, terdapat wit lo atau Ficus racemosa nama ilmiahnya.
Menjadi fokus Karmono dengar ujar orang kalau pohon
ini bertuah.
Entah benar atau
tidak, atau serba kebetulan saja ada sebuah peristiwa pernah terjadi di sekitar
pohon itu.
Bagi Karmono,
keingintahuan itu pun tak ingin terjawab. Biar menjadi cerita sejalan dengan kenang
prestasinya membuat karya patung cadas Kali Samin pada lomba prakarya tingkat
kabupaten masa itu. Ia bangga akan tempat ini.
“ Kula pun ngertos jawabane, mbah?
Nggih rada
samar kesan wohe lo niku, kaya mripat murup abang nek pas surup.”
(google grandpa-red)
“Ora
dadi ngapa, le. Syukur nek ngono. Tak lanjut market place sik”
Eksperimental Sinopsis “Sajen Tengah Jalan”
https://bobo.grid.id/read/08677263/pohon-loa-atau-lo-buahnya-bergantung-di-dahan
Wetan Kali
..., “Mbiyen kene
iki diubengi kali gedhe, Le.
Tapi samsaya suwe
ciut, amarga kahanan”
Kahanan apa, mbah?
Sampai saat ini,
Karmono mencari jawaban itu.
Ia mulai berpikir
dan mengira-ira sendiri.
Namun, yang ia tahu
perburuan percil (katak kecil), wader
kali,
dan welut adalah
sebuah kegiatan kala itu.
Langen dan ambyur
di irigasi selepas hujan atau saat ulu-ulu membagi air
adalah sebuah kesan
mendalam.
Dan ketika panen
tiba, bermain panah damen seolah menjadi tokoh Arjuna.
Walaupun sempat
berseteru, karena tidak ada yang mau menjadi Sangkuni.
Dan mulai manut
setelah hom pimpah.
Bagi Karmono,
tempat ini adalah kisah.
Kisah yang akan
selalu ia ingat, sejalan dengan deru motor
sekembalinya dari toko modern yang baru berdiri beberapa lama berdiri sekitar tempat ini.
“ Mbah, kula tengga
jawabane?”
“ Iya, le. Important. Aja sampai dilupakan!
Eksperimental Sinopsis “Sajen Tengah Jalan”
..., Itulah le, kenapa mBah tetap harus melakukannya. Desa iki sih butuh simbah. Simbah sebenarnya enggan. Tapi ini warisan mbah2mu dulu. Mbah pun ora wani nolak. Akeh bukti yang menguatkan. Secara kebetulan saja terjadi hal yang tidak diinginkan setelah tidak melakukan ini. Tapi, mBah sadar lan ngerti maksudmu, Le. Simbah juga takut akan nantinya. Tapi bagaimana lagi, le. Simbah harus melakukannya. Simbah butuh waktu untuk memulai baru, ...
Karmono membisu biru. Tahu-tahu Karmono terlihat komat kamit dengan aroma menyan di tempat itu.
Eksperimental Sinopsis “Sajen Tengah Jalan”
.., Tentu itu adalah bakat. Bagi anak seusianya sudah mampu berimajinasi. Imajinasi
khas di antara beberapa permainan anak 90’ an waktu itu, seperti sikangan,
dhelikan, egrang, kertas umbul, bekelan, backsodor, dan lainnya. Lewat tangannya
replika itu tercipta. Satu persatu mendekat, memainkan lakon di atas dhebog
kecil berkelir tembok rumahnya. Terlihat riang, senang, dan bersendau gurau di
era 90’an. Sang pereplika telah kembali. Mungkin ia sudah mengisahkan sifat
baik Pandhawa di sana, ...
(Eksperimental
sinopsis: “Anjar” Sang pereplika wayang)
“Selamat Jalan”
Darminah sudah kelelahan menghadapi gempuran suara-suara di sekitarnya. Bahkan lagu c*c*te tonggo yang ia bunyikan dengan keras pun tak mampu menghilangkan suara itu. Entah mengapa ia menjadi sensitif. Padahal sebelumnya, ia adalah sosok perempuan pembaharu di desanya. Banyak pola pemikirannya yang berhasil menjadikan desanya maju, angka kemiskinan warganya menurun, bahkan sempat digadang-gadang untuk menjadi sosok pengganti lurah desa, yang diharapkan segera saja pensiun, karena tak ada niat sedikit pun untuk membangun wilayahnya. Inilah aneh.
Darminah memang pernah terlibat sebuah masalah, namun itu hanyalah masalah sepele dan sudah clear diatasinya tanpa beban dan peace. Darminah pun juga tak yakin karena masalah itu penyebabnya. Tapi kenapa bisa terjadi? Darminah mencoba mengungkit-ungkit masa lalu, yang mungkin bisa menjadi jawaban atas persoalan pada dirinya. Lama ia mencari. Lama pula gempuran suara itu makin lantang. Hingga ...
“Wis nduk, gek ndang klamben,”
Darminah segera berpakaian ketika ibu menyelesaikan kerokan terakhirnya.
Eksperimental sinopsis: Blethok
..., Sederet titik naik turun menjadi catatan penting
bagi Kamin. Ia tidak mengira semenjak ada istilah La Nina. Ia menjadi kabar.
Tidak hanya oleh mereka. Tetapi Aku. Sebuah kenangan masa kecil saat fishing,
rafting, bahkan diving dengannya. Atau mencari sebongkah batu cadas untuk karya
rupa tugas di sekolah dasar. Kamin adalah kisah. Untuk Aku. Anak desa yang
membersamainya dulu, ....
# “Sinopsis eksperimental short text: Samin-River
…, Lain kali jangan kau
sepelekan pesan itu, sudah banyak yang kehilangan nyawa karena tak menggubrisnya.
Ini sudah banyak yang terekspos. Banyak media menyorot. Dan kau lagi-lagi
dongakkan kepalamu, tak mau sedikitpun kau menunduk. Tak sakitkan leher kau
atau barangkali ada bisul kau yang belum pecah. Atau kau …. ah sudahlah!
Burhan sudah terbiasa memarahi
televisinya. Entah kenapa ia berlaku seperti itu. Setiap kali memuncak, ia
kemudian matikan TV itu (second buying).
Sayup-sayup lirik lagu “Aku Tenang” Fourtwnty.
“Sinopsis eksperimental short text: “Kau atau Penulismu yang Mati”
..., Dua ekor elang saling bertengkar memperebutkan tangkapan. Kedua jatuh terjerembab di lahan gambut. Sempat abadikan melalui kamera C6 kala itu. Dan saat itu belum tersentuh apa itu nama share IG. Apalagi waa (baca: WA). Friendster pun jarang dibuka. Karena mesti ke warnet & ketika pulang mesti menepi sebentar karena bertepatan asap bakaran lahan turun.
Inilah nuansa itu ... Nuansa mengabdikan potensi yang tak kunjung bersua di tanah menetap. Dan mesti diujikan ke tanah seberang yang bernama tanah hijau. Dalam balutan alam yang sungguh eksotis yang masih rindukan itu ... banar & bujur!
(Catatan hijau, 081008)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar