Selasa, 09 Juli 2013

Senyum ‘Kelotok’ Rantau
 
   Pagi. Tersandar dalam tautan buritan. Sepercik embun menempel di dua buah dayung yang tersusun rapi di atas tali rotan yang tergulung bulir-bulir serabut. Sejenak meliuk-liuk disapu kecil gelombang sungai yang beriak. Sepintas terlihat gulungan jaring dan kail yang ikut pula bersandar di tengah galangan yang berusaha mendepa umpan untuk meraih isi bawah air.
  Siang. Sandaran tautan buritan terlepas, dengan deru sedikit menggema meninggalkan tepi riak menuju ke tengah. Selintas kelok-kelok air mengikuti langkah itu. Menghempas sedikit gelombang yang memecah sampingnya. Beranjak lepas, kadang membelah riak, kadang ikuti riak yang menghantarkan dalam perjalanannya. Sampai di tengah dengan deru semakin mengecil dan lambat laun meredup. Hanya kelok bergoyang-goyang berdansa searah lambaian. Kedua dayung pun terangkat mencoba menyeimbangkan agar tak terbalik. Peran tugas jaring dan kail menggantikan suasana. Mendepakan umpan dan rangkaian gerak tali-temali meraih isi bawah air yang kaya di bumi belantara ini. Galangan menjadi kunci setiap tetes keringat dengan berjuta hasil bawah air yang beraneka. Mengisahkan tersendiri sebuah kepuasan di setiap pencarian.
  Sore. Setiap jengkal jaring dan kail mulai terangkat perlahan, terduduk kembali dalam tempat yang sama di galangan. Kedua dayung tak kuasa di tinggalkan. Ikut nimbrung di atas rotan yang sedikit basah karenanya. Deru gema pun bersua, kembali menepis riak gelombang, kembali terarah ke tepian. Tepi sebuah sandaran buritan, yang kelak esok dapat mengisahkan perjalanannya sampai kemudian. Tak pernah hilang, dan tak ingin hilang. Karena menjadi ciri khas untuk diceritakan dalam suasana rantau ilham.

Kelotok: perahu kecil di ranah Borneo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Curhatan Warga Desa

Ironi: Galengan* ROSID WURYANTO · SABTU, 12 OKTOBER 2019 ·1 MENIT   ..., “ Ki Lurah, cukup satu saja permintaan kami, embung !!! Janga...