Senyum ‘Kelotok’ Rantau
Pagi. Tersandar dalam tautan buritan. Sepercik embun menempel di dua
buah dayung yang tersusun rapi di atas tali rotan yang tergulung
bulir-bulir serabut. Sejenak meliuk-liuk disapu kecil gelombang sungai
yang beriak. Sepintas terlihat gulungan jaring dan kail yang ikut pula
bersandar di tengah galangan yang berusaha mendepa umpan untuk meraih
isi bawah air.
Siang. Sandaran tautan buritan terlepas, dengan deru sedikit menggema
meninggalkan tepi riak menuju ke tengah. Selintas kelok-kelok air
mengikuti langkah itu. Menghempas sedikit gelombang yang memecah
sampingnya. Beranjak lepas, kadang membelah riak, kadang ikuti riak yang
menghantarkan dalam perjalanannya. Sampai di tengah dengan deru semakin
mengecil dan lambat laun meredup. Hanya kelok bergoyang-goyang berdansa
searah lambaian. Kedua dayung pun terangkat mencoba menyeimbangkan agar
tak terbalik. Peran tugas jaring dan kail menggantikan suasana.
Mendepakan umpan dan rangkaian gerak tali-temali meraih isi bawah air
yang kaya di bumi belantara ini. Galangan menjadi kunci setiap tetes
keringat dengan berjuta hasil bawah air yang beraneka. Mengisahkan
tersendiri sebuah kepuasan di setiap pencarian.
Sore. Setiap jengkal jaring dan kail mulai terangkat perlahan, terduduk
kembali dalam tempat yang sama di galangan. Kedua dayung tak kuasa di
tinggalkan. Ikut nimbrung di atas rotan yang sedikit basah karenanya.
Deru gema pun bersua, kembali menepis riak gelombang, kembali terarah ke
tepian. Tepi sebuah sandaran buritan, yang kelak esok dapat mengisahkan
perjalanannya sampai kemudian. Tak pernah hilang, dan tak ingin hilang.
Karena menjadi ciri khas untuk diceritakan dalam suasana rantau ilham.
Kelotok: perahu kecil di ranah Borneo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar