Dia dalam senandung yang kembali
Alam Tambun Bungai
sejenak terpisahkan dalam cerita perjalanan. Tampilan pijakan kuliner
yang selama beberapa tahun telah mengisahkan cita rasa dan rangkaian
harum yang setiap hari senantiasa menemani perjalanan itu, kini harus
dihentikan. Pulang. Meninggalkan sejumlah cerita yang berujung kenangan.
Tampilan kenangan dalam nyanyian putih yang melarutkan nyayian hitam
petualangan. Kembali dalam cerita awal, awal seperti sejumlah mata
memandang keindahan pertama alam kehidupan.
Seketika tiba, sosok orang kedua yang dibanggakan, penuntun
arah dalam doa dan restunya yang dulu menyertai perjalanan itu, hilang,
pergi dan tak akan terlihat lagi. Namun, senantiasa masih melekat,
menyisakan sejumlah amanah untuk selalu bertahan dikemudian.
Kehilangan bukanlah berarti lenyap. Seperti hal-hal kemarin, berusaha
untuk tegar, tabah dalam menghadapi. Karena sejumlah perjalanan mesti
dilanjutkan. Memulai dari hal-hal nol kembali di tempat biasa.
Mengartikan gelar yang sementara tertunda dulu, dalam senandung yang
disembunyikan sejenak.
Sekarang, senandung itu telah kembali dalam proses sempurna, lewat senyum seseorang yang menghantarkan sebuah pijakan editorial. Pijakan
untuk selalu ingin memunculkan keberartian yang sesesungguhnya. Kelak
menjadi pijakan-pijakan yang sama untuk akhir sebuah perjalanan yang
baik. Semoga ............
Proses kehidupan yang terlalui :
marketing, penulis, kuliner, editor, sampai ...........???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar