Selasa, 09 Juli 2013

Dia dalam senandung yang kembali

   Alam Tambun Bungai sejenak terpisahkan dalam cerita perjalanan. Tampilan pijakan kuliner yang selama beberapa tahun telah mengisahkan cita rasa dan rangkaian harum yang setiap hari senantiasa menemani perjalanan itu, kini harus dihentikan. Pulang. Meninggalkan sejumlah cerita yang berujung kenangan. Tampilan kenangan dalam nyanyian putih yang melarutkan nyayian hitam petualangan. Kembali dalam cerita awal, awal seperti sejumlah mata memandang keindahan pertama alam kehidupan.
   Seketika tiba, sosok orang kedua yang dibanggakan,  penuntun arah dalam doa dan restunya yang dulu menyertai perjalanan itu, hilang, pergi dan tak akan terlihat lagi. Namun, senantiasa masih melekat, menyisakan sejumlah amanah untuk selalu bertahan dikemudian.
  Kehilangan bukanlah berarti lenyap. Seperti hal-hal kemarin, berusaha untuk tegar, tabah dalam menghadapi. Karena sejumlah perjalanan mesti dilanjutkan. Memulai dari hal-hal nol kembali di tempat biasa. Mengartikan gelar yang sementara tertunda dulu, dalam senandung yang disembunyikan sejenak.
  Sekarang, senandung itu telah kembali dalam proses sempurna,  lewat senyum seseorang yang menghantarkan sebuah pijakan editorial.  Pijakan untuk selalu ingin memunculkan keberartian yang sesesungguhnya. Kelak menjadi pijakan-pijakan yang sama untuk akhir sebuah perjalanan yang baik. Semoga ............

Proses kehidupan yang terlalui :
marketing, penulis, kuliner, editor, sampai ...........???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Curhatan Warga Desa

Ironi: Galengan* ROSID WURYANTO · SABTU, 12 OKTOBER 2019 ·1 MENIT   ..., “ Ki Lurah, cukup satu saja permintaan kami, embung !!! Janga...