Selasa, 09 Juli 2013

Dia yang Terlambat Bersenandung *Permenungan REZO*

 
…………di balik tirai halus yang tersikap kemarin, kini terlihat inovasi baru yang tak sempat terlihat oleh orang yang dibanggakan. Namun, ia tegar dan tetap bangkit, karena ia telah diridhoi untuk menemukan jalan itu,
lewat citra dan kharismatik yang diturunkan padanya.

Perlahan satu persatu ia lontarkan dalam sebuah pencarian, dalam mimipi yang dicitakan. namun, setiap pencarian tak selamanya mampu mendapat tapal batas yang jelas dan tercermin.  Itupun hanya sebuah pengungkapan mengetuk pintu saja.
Tapi ini bukan akhir.

Walaupun hanya sejenak. Ia masih tetap berharap & berusaha, satu cerita akan tergapai dalam tema yang terus tertulis untuk sampai tahap ending esok. Semoga…………?


Fide in:

2007. Tahun terakhir meninggalkan civitas akademika di Solo. Sebuah perjuangan akhir studi yang tak sempat disaksikan oleh ayahanda, yang mendahului sebelum moment ini terbukti.
Seiring berlalu ia coba bercengkrama untuk mengartikan gelar yang didapatkannya. Satu persatu ia promosikan apa yang dimiliki, mulai dari tapal penerbitan sampai jurnalistik. sebuah jawaban kadang tidak selamanya Ya! , ia hanya bisa mengetuk pintu saja, karena sebuah persaingan dan motivasi ekonomi yang tak mampu dipenuhi perusahaan.
Lebih dari setahun, ia mencoba lewatkan gelarnya dengan sebuah tapal didunia pemasaran, sebulan ia menekuni. Namun hati berkata Tidak!. Ia mesti mundur perlahan, sebagai sebuah konsekuensi target yang tak tercapai. Ia kembali menoreh pijakan lagi. Lewat teman, ia dapat menemukan tapal penulisan, sebagai sseorang writer.

Ia coba aktualisasikan dengan menulis. Perlahan-lahan, namun kadang terjungkal ia selesaikan segala sesuatu yang menjadi tugasnya. Ia sebenarnya bisa. Namun apa yang semestinya diharapkan, tak dapat tergapai lagi untuk menjaga tapal itu terlepas. Lagi-lagi ia harus pergi.
Lambat laun ia habiskan ditempat yang tersembunyi. Tempat dimana, ia sendiri, dalam kesepian ia coba menulis beberapa hal, tentang cerita, tentang keindahan puitis, tentang syair, tentang skenario, tentang bait-bait alenia dalam rangkaian karya.

Juni 2008. Sebuah jawaban lain yang menghantarkan ia untuk berpetualang lintas bidang (kuliner) sampai hari ini diranah Tambun Bungai. Ia hanya berharap petualangan ini akan menumbuhkan aktualisasi dari setiap yang diharapkan. Memang terlambat, tapi semoga senandung itu akan selalu mengalun dalam perjalanan kemudian. Restuillah!

INISIAL REZO

..., Kenapa Rezo
begitu ramai disebut, ...

..., memang sebuah kesengajaan ketika seorang teman (notabene kelas 2) satu kelas di tingkat lanjutan pertama mengatakan dalam candanya untuk sebuah fakta pertahanan Atlatik Utara (NATO) dalam mata pelajaran Sejarah, yang disebut-sebut memiliki keterkaitan plesetan nama khas orang Jawa “Narto.” Sehingga imbasnya, seluruh penghuni kelas mau tidak mau harus memiliki nama inisial Jawa sebagai sebutan/plesetan, mulai dari nama orang tua mereka sampai nama-nama khas Jawa yang erat dengan budaya. ...
..., itulah sebabnya, ketika nama asli tidak dapat diplesetan atau dikait-kaitkan dengan khas Jawa, maka dipaksakan untuk mengambil huruf pertama dari nama asli. Berhubung nama asli mulai dari huruf R. Maka melalui proses penelusuran, didapatkan nama-nama diantaranya adalah Ratno, Rasimo, Ramto. ...
..., hanya saja ketiga nama tersebut kurang begitu mengena ketika mau diambil dengan alasan sebagai berikut.
  1. Nama Ratno, sudah ada teman yang memiliki, seorang bernama Suratno atau Bon Jovi (sebutan nama lain sebelumnya) tidak mau namanya dijamak atau digandakan, karena sudah ia patenkan dalam absensi kelas, dan menurutnya sangat riskan kalau dipakai karena orang tuanya sudah mendaftarkannya di Kantor Catatan Sipil.
  2. Nama Rasimo juga tidak begitu mengena, karena dengar kabar waktu itu, yang bersangkutan ikut menjadi korban kebakaran pada peristiwa tragedi 1997, gara-gara ikut menjarah cat dari toko bangunan di kotanya.
  3. Nama Ramto juga tidak bisa dipakai dan bila dengar nama orang itu, pasti merasa keder dan ketakutan, karena yang bersangkutan pernah menjadi Satpam jaga yang terkenal galak. Maklum karena waktu itu, dari sekian Satpam, hanya ia yang boleh membawa borgol besi.
..., jelas ketiga nama tersebut tidak dapat mengena karena alasan-alasan di atas, sebenarnya ada satu nama lain yang bisa masuk dalam kategori, namun lebih tidak mengena lagi alias sangat riskan dipakai dan jarang sekali orang ingin memakainya, karena kalau diartikan sangat-sangat tidak pas, karena nama itu adalah Rasido, ...
..., setelah berbagai hal pemikiran dengan usaha mengingat-ingat, akhirnya ditemukan nama Reso. Nama itu diambil dengan alasan sebagai berikut.
  1. Segi etimologis, reso adalah bhaurekso (kamus jawa), diartikan sebagai penjaga suatu hal yang berkaitan dengan tempat, suasana, aktivitas kehidupan. Penjaga yang tetap, tidak akan meninggalkannya sampai benar-benar tidak ada yang dijaganya.
  2. Segi etimologis (Kamus english), reso terbagi menjadi re dan so, re adalah kembali, so adalah jadi/juga. Sehingga reso artinya jadi/juga kembali. Lebih pada pemaknaan sebagai berikut.
  3. Terlahir kembali sebagai seorang yang sempurna dan memiliki harapan ke depan (menurut q).
  4. Unsur-unsur retakan yang menyatu kembali menjadi sesuatu yang berarti dan bermanfaat bagi kehidupan (bukan pendalaman ilmu rawarontek/Ini juga menurut q lagi).
  5. Orang yang bepergian jauh/petualang yang memiliki harapan pulang kembali untuk membangun tempat dan suasana dalam kehidupan terlahirnya sebagai pengembangan ilmu atau pengalaman yang didapat dari petualangan itu (pengalaman yang baik-baik, dan perlu dikembangkan).
  6. Unsur penyerapan nama, reso memiliki kesamaan nama Resa/Reza. Hal ini dapat dikait-kaitkan dengan nama-nama penyanyi-penyanyi terkenal (famous singers), seperti reza Artamevia dan Reza Herlambang. Jadi, ada kemungkinan kesamaan nama itu, syukur-syukur kehidupannya tidak akan jauh dari kepiawaian mereka dalam tarik suara (dapat dibuktikan pernah mengisi pentas 17 an di desa-desa).
  7. Dan seterusnya ...
Sebenarnya masih banyak nama Reso yang dapat dikait-kaitkan dengan hal-hal lain, namun masih dalam proses pencarian. Di samping itu, karena penulisan ini dilakukan pada tengah malam yang disertai rasa ngantuk yang sangat, sehingga harus dibatasi sampai di sini dulu.
Tidak dapat dipungkiri, karena khawatir yang punya nama pungki akan mrengut, karena namanya diakhiri -ri, sehingga nama Reso adalah flashback dari keterangan-keterangan di atas. Mungkin bukan sebuah rekayasa, tapi sesuatu yang terlihat dipaksakan, mungkin! Tinggal bagaimanalah menilainya. Kesamaan nama yang tertera bukanlah untuk menjatuhkan, melainkan hanya sebagai guyon maton yang mendukung penulisan.
Jika merasa belum mengenal nama aslinya dan takut melupakan, diharapkan untuk menyebut Reso sebanyak dua kali saja nama tersebut, karena kalau tiga kali sudah sering dilakukan orang untuk menandai penekanan (aksen) dalam sebuah pernyataan/penyebutan.
Akhirnya, kekhawatiran dan ketakutan hidup di masa tua, akan dapat dihilangkan, jika kita tetap mengedepankan senyum dan berusaha berpikir bahwa kita akan tetap muda selayaknya, walaupun kenyataannya sudah benar-benar lanjut . Thanks for all. Mohon maaf lahir & batin.

4 Des 2010
Rosid Speziale Reso

Catatan Perjalanan Palangkaraya I              

*Rosid*

v     21 Juni ’08 (sore) ; tertulis pesan singkat………..”bro, tawaran kerja di RM Wong Solo Palangka Raya, Kalteng , berkas lamaran segera malam ini klo berminat……….”
v     21 Juni ’08 (malam); membawa berkas lamaran. bertemu dengan manajer Solo. memastikan kemauan berangkat. diperoleh kata sepakat. tinggal pemberangkatan.
v     22 Juni ’08 (siang); meminta izin ibu dan persiapan seadanya.
v     22 Juni ’08 (sore); briefing keberangkatan (pemberian tiket kapal laut).
v     22 Juni ’08 (pkl. 17.00); pamit pada keluarga dan berziarah ke makam ayah sejenak.
v     22 Juni ’08 (isya); berkumpul di RM Wong Solo cab. Solo untuk persiapan keberangkatan.
v     22 Juni ’08 (pkl. 21.00); travel solo menuju Tanjung Perak Surabaya.
v     23 Juni ’08 (pk. 05.00 pagi); travel solo sebentar mampir di RM Mie Kocok cab, Surabaya. diberangkatkan dengan colt sayur ke tanjung perak Surabaya.
v     23 Juni ’08 (pk. 07.00 pagi); pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. mulai memasuki  kapal RORO PT Darma Laut Nusantara III. kapal perlahan meninggalkan tanjung perak Surabaya menuju pelabuhan Banjarmasin.
v     23 juni ’08 (malam); di atas kapal RORO, ditengah laut Jawa (tanpa sinyal HP). tidak kebagian tempat duduk. tidur di atas geladak kapal melihat langit. ombak begitu besar malam ini. dingin, bro!
v     24 Juni ‘08 (pagi); kapal merapat dipelabuhan Bandarmasih (banjarmasin). sejenak menikmati mie bakso dan mie ayam, sambil menunggu jemputan.
v     24 Juni ’08 (siang WITA); Angkutan orange (disebut taksi) membawa kami ke RM Wong Solo Cab. Banjarmasin. sempat makan. lalu diberangkatkan ke palangka raya menggunakan travel.
v     24 Juni ’08 (pk. 13.35); travel berhenti sejenak disuatu tempat (diketahui daerah Pulang Pisau, wilayah Kalteng). sempat membasuh muka. minum Aqua,  tidak makan. sudah kenyang perjalanan.
v     24 juni ’08 (maghrib); travel memasuki Palangka Raya, Kalteng. sampai di RM Wong Solo cab. Kalteng.
v     24 Juni ’08 (malam) istirahat sejenak (di mess bekas veteran asal wonogiri). brieffing sebentar untuk perencanaan training kerja.
v     25 Juni ’08 (pagi); training kerja di Mie Kocok cab. palangka raya (satu tempat dengan manajemen RM Wong Solo). training memakai baju putih yang sempat dibeli dipasar dengan uang saku seharga 60 ribu.
v      26 Sep ’08 ; menjadi karyawan tetap di Mie kocok Bandung cab. Palangka raya. (saat HUT-RI, Lebaran tahun 2008, Idul adha 08, akan diceritakan selanjutnya).
v     25 Nop ‘08 ; panggilan tes kerja diharian umum Kalteng pos.
v     26 Nop ’08; diterima kerja editor kalteng pos. 2 hari kerja. keluar. (ada alasan sendiri yang tidak dapat disampaikan, klo pingin tahu hub. saya).
v     15 Des ’08; smentara menggantikan kepala produksi Mie Kocok Bandung.


                                                 TOBE  CONTINUED…………………..
Dia dalam senandung yang kembali

   Alam Tambun Bungai sejenak terpisahkan dalam cerita perjalanan. Tampilan pijakan kuliner yang selama beberapa tahun telah mengisahkan cita rasa dan rangkaian harum yang setiap hari senantiasa menemani perjalanan itu, kini harus dihentikan. Pulang. Meninggalkan sejumlah cerita yang berujung kenangan. Tampilan kenangan dalam nyanyian putih yang melarutkan nyayian hitam petualangan. Kembali dalam cerita awal, awal seperti sejumlah mata memandang keindahan pertama alam kehidupan.
   Seketika tiba, sosok orang kedua yang dibanggakan,  penuntun arah dalam doa dan restunya yang dulu menyertai perjalanan itu, hilang, pergi dan tak akan terlihat lagi. Namun, senantiasa masih melekat, menyisakan sejumlah amanah untuk selalu bertahan dikemudian.
  Kehilangan bukanlah berarti lenyap. Seperti hal-hal kemarin, berusaha untuk tegar, tabah dalam menghadapi. Karena sejumlah perjalanan mesti dilanjutkan. Memulai dari hal-hal nol kembali di tempat biasa. Mengartikan gelar yang sementara tertunda dulu, dalam senandung yang disembunyikan sejenak.
  Sekarang, senandung itu telah kembali dalam proses sempurna,  lewat senyum seseorang yang menghantarkan sebuah pijakan editorial.  Pijakan untuk selalu ingin memunculkan keberartian yang sesesungguhnya. Kelak menjadi pijakan-pijakan yang sama untuk akhir sebuah perjalanan yang baik. Semoga ............

Proses kehidupan yang terlalui :
marketing, penulis, kuliner, editor, sampai ...........???
Senyum ‘Kelotok’ Rantau
 
   Pagi. Tersandar dalam tautan buritan. Sepercik embun menempel di dua buah dayung yang tersusun rapi di atas tali rotan yang tergulung bulir-bulir serabut. Sejenak meliuk-liuk disapu kecil gelombang sungai yang beriak. Sepintas terlihat gulungan jaring dan kail yang ikut pula bersandar di tengah galangan yang berusaha mendepa umpan untuk meraih isi bawah air.
  Siang. Sandaran tautan buritan terlepas, dengan deru sedikit menggema meninggalkan tepi riak menuju ke tengah. Selintas kelok-kelok air mengikuti langkah itu. Menghempas sedikit gelombang yang memecah sampingnya. Beranjak lepas, kadang membelah riak, kadang ikuti riak yang menghantarkan dalam perjalanannya. Sampai di tengah dengan deru semakin mengecil dan lambat laun meredup. Hanya kelok bergoyang-goyang berdansa searah lambaian. Kedua dayung pun terangkat mencoba menyeimbangkan agar tak terbalik. Peran tugas jaring dan kail menggantikan suasana. Mendepakan umpan dan rangkaian gerak tali-temali meraih isi bawah air yang kaya di bumi belantara ini. Galangan menjadi kunci setiap tetes keringat dengan berjuta hasil bawah air yang beraneka. Mengisahkan tersendiri sebuah kepuasan di setiap pencarian.
  Sore. Setiap jengkal jaring dan kail mulai terangkat perlahan, terduduk kembali dalam tempat yang sama di galangan. Kedua dayung tak kuasa di tinggalkan. Ikut nimbrung di atas rotan yang sedikit basah karenanya. Deru gema pun bersua, kembali menepis riak gelombang, kembali terarah ke tepian. Tepi sebuah sandaran buritan, yang kelak esok dapat mengisahkan perjalanannya sampai kemudian. Tak pernah hilang, dan tak ingin hilang. Karena menjadi ciri khas untuk diceritakan dalam suasana rantau ilham.

Kelotok: perahu kecil di ranah Borneo
Di seberang Laut

Dalam terang di seberang laut
mengikis catatan tersendiri
riak ombak itu. Tengadah
Mengatup ramai sejenak

Dalam desah di pulau hijau
mengukir bait sepenggal
raut belantara. Terpekur
menampar kesadaran khayal

Dalam sangkaan derai sungai
mentahtakan haluan kelotok
mendayung papan. Tergerus
melintasi sejuta pesona gelombang

Dalam sisi buram mimpi
menghantar bunga-bunga ulin
mengharum batang. Tergores
senyum ide tinta rajah

Dalam pesona mahligai
memfilosofi tentang harapan
temaram cahaya. Bernostalgia
melambai titik terang batas

Paray, 29 March 2010

…, Kilas memoryan my mam? sinopsis

Selanjutna part 1 bercerita tentang waktu yang berlalu, di mana tuk kesekian kali, mesti mengingatnya, padahal sudah beranjak mendekati 1 tahun setelah kepergiaannya.
Sebenarnya bukan harus menangisi ataupun menentang takdir-Nya. Namun, jika tiap kali bertandang di pemakaman itu, q seperti tak lagi bernapas panjang, karena sejauh ini, ketika hidup, q belum bisa bersujud dan menyentuh telapak kakinya, yang begitu indah sebagai bagian dari surga yang dimiliki.
Memang telah menyadari, sejauh perantauan tiap kali mencoba menghibur dan mendoakannya. Agar tetap tersenyum, bahwa anakmu baik-baik saja, begitu pula sebaliknya. Rasa kangen yang terluapkan, jika kepulangan kelak akan merawat dan menjaga selamanya.
Setelah ada kabar itu, beranjak berlari tuk keberangkatan pesawat pulang. Hanya terpikirkan q ingin segera menjumpainya yang kini terlelah dalam sakitmu. Raut yang terlelah, berusaha mencoba tersenyum, tuk buah hatinya. Sayu dan berusaha bangkit tuk memeluk dan mencium anaknya yang lama ditinggal.
Hingga kepulangan q, tak hentinya berusaha membuatnya tegar, agar kelak dapat kembali tersenyum. Seperti senyum sebelum q beranjak meninggalkannya beberapa waktu kemarin. Namun kelelahan yang panjang, dalam terbaring pun tak henti-hentinya ia berucap sholawat, menghaturkan kalimat-kalimat takwa. Itulah yang membuat q bangga. Tak henti-hentinya pula, ia meminta dibimbing sholat, walaupun ketika selesai, ia sempat menegur, sebentar anak q, tahlil dulu, tasbih, baru tahmid.
Terhenyak dan takjub, ketika malam itu, ia sempat bertanya, bagaimana adik. Sempat q jawab, adik sudah pulang, pesawat baru saja mendarat di Jogja, tinggal dijemput di Solo balapan, karena sudah malam, ia naik Pramex. Nanti juga langsung menemui Ibu.
Ya sudah, kata-katanya kembali terdiam dalam tidurnya. Dua hari, dalam lelahnya, ia seringkali bertanya tentang suatu hal, yang kadang q sendiri tak memahami, q hanya berpikir, mungkin Ibu kelelahan selama tak ada yang menegurnya, untuk istirahat. Karena ketika kami berdua diperantauan, hanya mendengar dari beberapa kerabat, ibu tak pernah istirahat.
Hingga malam, kelelahan Ibu sedikit sembuh dan meminta dibantu untuk duduk. Sebentar dan kemudian minta dibaringkan lagi. Tak ada kata setelah itu, dan tertidur. Sampai beranjak malam, setelah sholat malam, dari fajar menjelang subuh, dalam rangkulan kerabat, Ibu benar-benar telah tiada. Tak ada kata terakhir yang sempat dikatakan, Namun dalam benak, q tahu Ibu hanya meminta untuk selalu menjaga semuanya. Tak ada yang mampu berkata-kata, selain q menghaturkan selamat jalan dalam rindu q yang sebentar, dalam doa untuk keridhoan-Nya.
Tak ada yang bisa diberikan selain terima kasih telah memberi waktu dan tempat terindah dalam buaianmu, dari sejak melihat dunia hingga menantang dunia ini, memang tidak sempat kenang-kenangan dari perantauan ini terberikan. Namun segala senyummu telah mampu memberi semangat tuk tetap sabar dan kuat menjalani hidup ini, walau tanpamu sekarang. Tak ada to be continued, kecuali thanks for my mam, kami bangga menjadi buah hatimu.

Comedy rezo

 #1

Profesional VS anti Profesional
Di sebuah hutan, seorang mandor sedang mengintrograsi pegawainya yang sering meninggalkan alat gergaji mesin dalam keadaan hidup, tanpa mematikannya.
Mandor: “Sudah berulang kali, kamu seringkali teledor meninggalkan gergaji mesin dalam keadaan hidup, bisa gak kerja yang professional?”
Pegawai: “Saya sudah professional pak, solidaritas pun sudah saya tunjukkan, apalagi?”
Mandor: “Tapi meninggalkan gergaji mesin masih hidup, apakah itu tindakan professional!”
Pegawai: “Saya punya alasan untuk itu, Pak.
Yang pertama, gergaji saya tinggalkan, karena menolong teman yang kejatuhan pohon yang habis saya tebang. Yang kedua, saya tinggalkan, karena menolong anak Gorilla yang juga tertimpa.
Yang ketiga, saya tinggalkan, karena saya sendiri juga ikut tertimpa, Pak!
Mandor: “Banyak alasan, ini sudah ketiga kalinya, saya gak mau tahu alasan untuk keempat kalinya, Paham!”
Pegawai: “Paham pak, tapi untuk alasan keempat, saya kurang tau apakah Bapak nanti akan tetap menanyakan alasannya?
Mandor: “Kok bisa !!”
Pegawai: “Bisa saja pak, kemungkinan bapak yang tertimpa juga & saya tidak melihat bapak waktu itu …” Mandor: “ ?????

#2
Tragedi Pink
Sepasang muda mudi diketahui sedang ada masalah, hanya karena sepatu baru yang dibeli, warnanya tidak disukai pasangannya.
Cewek: “tahu gak sih, beli sepatu ini dengan uangku sendiri, gak pernah to aku minta ama kamu, lagian warna ini juga pas untuk cewek”
Cowok: “aku tahu, klo pun kamu mau, akan aku belikan apa pun, asal jangan warna itu, aku paling gak suka”
Cewek: “lha kenapa, bukan kah warna ini sangat indah jika aku pakai, coba lihat, pantas kan!”
Cowok: “nggak klo mesti warna itu yang kamu pakai”
Cewek: “bukankah kemarin, kamu pernah bilang, kalau kamu akan tetap mendukung, apa pun yang ada dalam diriku, tapi kenapa?”
Cowok: “Iya iya aku tahu, tapi aku tetap gak setuju, kalau tetap itu”
Cewek: “ada alasannya, mengapa gak suka dengan warna itu?”
Cowok: “Ada.
Yang pertama, dulu aku pakai itu, malah yang nggodain bukannya cewek, tapi cobrey
Yang kedua, jika aku pakai itu, aku gak tega kalau kamu kalah cantik denganku.
Yang ketiga, jika pakai itu, aku mungkin tak bersamamu saat ini, ngerti”
Cewek: “ya ya. Itu to alesannya, berarti ada kesempatan untuk alasan keempat buat kamu, Plakkk ! (sambil menampar pakai sepatunya)
Cowok: loh !!!
Cewek; “Genap keempat, jika kau berani meninggalkanku, warna ini jua yang menjadi alesannya toh”
Cowok: “ Nggih !!!”

#3
SEJENAK RIBET
Sepasang kekasih yang akan melangsungkan pernikahan, terlibat masalah di toko emas.
Cewek: “aku maunya yang sederhana saja mas, gak perlu mahal, lagian aku tahu kamu kok!”
Cowok: “Gak, yang penting kamu bahagia & senang”
Cewek: “yang biasa saja mas, lagian tidak hanya ini saja yang dipersiapkan, mas juga mesti merencanakan untuk nanti pas nikahan kita”
Cowok: “Tenang saja, semua sudah aku persiapkan segalanya, untuk nanti”
Cewek: “Tapi ??”
Cowok: “ Udah gak pa2, lagian semua sudah pada ngerti”
Cewek: “Ngerti gimana mas?”
Cowok: “Sudah seharusnya mas banyak masalah, dibandingkan kamu, karena memang sudah sewajarnya.”
Cewek: “Kok bisa mas”
Cowok: “bisa, karena masalah memang Mas-alah untukku”

#4
Solusi Lebay
Seorang peziarah bertanya kpd petugas makam tentang keadaan komplek makam yang sudah penuh dengan nisan.
Peziarah: “Pak, kondisi makam ini kelihatanya sudah penuh, lalu bagaimana jika nanti ada orang yang meninggal, & minta dimakamkan sini”
Petugas makam: "Begini pak, tidak ada kemungkinan tuk memugar nisan lain, tapi nanti rencananya pagar makam ini mau ditinggikan dan dikunci”
Peziarah: “lho kok bisa pak, lalu hubungannya apa peninggian pagar sama nisan yang penuh?”
Petugas makam: “rencananya nnti klo pagar sudah jadi, di dalamnya dikasih bberapa singa, jadi klo ada yang meninggal tinggal ditaruh situ”
Peziarah: “ah … mbuh!!!”

# 5
Telat .... di Bantu Ya …
di sela-sela kebingungan, karena kapal diketahui bocor, seorang kapten meminta personelnya untuk menginformasikan agar seluruh penumpang segera memakai baju pelampung & meminta seluruh penumpang untuk segera turun ke laut. Namun ketika giliran terakhir sang kapten melompat, tiba-tiba ia melihat satu orang yang terlihat adem ayem & nyantai tanpa baju pelampung. Segera saja kapten bertanya:
Kapten: “tidak usah takut, nanti bantuan segera datang dan menyelamatkan kita”
Penumpang: “gak pak, duluan ja”
Kapten: gak apa2, laut sini aman, gak ada ikan hiu atau paus, paling cuma ubur2 klo gak apes kena kita (sambil menyakinkan)
Penumpang: “saya belakangan saja pak, silahkan saja bapak lompat”
Kapten: “ngeyel, ya sudah saya duluan, tapi jangan menyalahkan nanti”
Selanjutnya kapten segera saja melompat, namun tiba-tiba penumpang menyeru kepadanya.
“Pak !!! itu daratan ….
Alhasil dapat dipastikan brakkk, karena ketika beragumen dengan penumpang. Kapal sudah ditarik kapal bantuan.

#6
Training Listrik
Petugas PLN terlibat percakapan tentang kinerja siswa magang di instansinya.
Petugas 1: dari ketiga siswa yang magang di tempat kita, sangat berbeda karakteristik satu dengan yang lainnya Petugas 2: Ya jelas. Anaknya juga berbeda, wajar to?
Petugas 1: Bukan karena itu, tapi masalah kerja mereka!
Petugas 2: Tapi kelihatannya, mereka tekun dan disiplin, lalu apa bedanya?
Petugas 1: Ya kelihatannya, tapi
Yang anak pertama: bagus, kreatif, dan gak sungkan belajar dan tanya2 kalau ada masalah di lapangan.
Yang anak kedua: Supel, disiplin, humoris, namun membuat kesel klo nanya yang nggak2, seperti kesetrum rasanya gimana, klo pas di atas hayub2en ngatasinya gmana, hadewhh
Yang anak ketiga: salut untuk yang ketiga ini, berani dan siap, hanya saja terlalu pendiam anaknya
Petugas 2: kok bisa salut ma yang ketiga, yang pertama dan kedua kayakna lebih orientasi kerjanya
Petugas 1: Ya sih. Buktinya, waktu di lapangan, saat aku tinggal ambil kabel, anak ini tetap tenang di atas, gak nanya rasane kesetrum, gak nanya hayub2en, terlebih lagi saat aku nyampai di tempat, anak ini tetap diam saja. Bagus to ???
Petugas 2: padu wae yo !!

#7
KISAH PEMBURU (sebuah pilihan)
Dalam keadaan terpojok seorang pemburu sempat berujar lewat Hp pada istrinya.
Pemburu: "Dik, mungkin ini terakhir kalinya aku bersay hallow denganmu"
Istri: Apa!!!, apakah kurang cukup aku menemanimu selama ini (nada keras)
 Pemburu: “Bukan begitu, Dik. Aku benar-benar sudah tidak bisa (berusaha menyembunyikan)
Istri: “Mulai macam-macam sekarang, ingat Pak, janji kita dulu pas pernikahan to! Sehidup s...emati!”
Pemburu: “Iya Dik, tapi aku mesti gimana lagi, sudah tidak bisa denganmu”
 Istri: “ Ok, kalau maumu begitu, Pak. Tapi tolong, aku ingin tahu, siapa dia yang telah membuat Bapak berubah sekarang?”
 Pemburu: “aku bingung Dik, ada tiga soalnya!”
Istri: Hah …, sebanyak itu, benar2 tega kamu Pak!
 Pemburu: “Lha terus gimana, Dik. Mereka minta semuanya, aku tidak bisa berbuat apa2 sekarang”
Yang pertama: gemuk, rambutnya panjang, giginya bagus, kukunya juga panjang”
Yang kedua: agak gemuk, rambutnya pendek, giginya gingsul, dan senyumnya mencurigakan”
Yang ketiga: agak kurus, rambutnya agak pendek, giginya ompong, dan menggoda”
 Istri: “aku sebenarnya tidak rela Pak, tapi terserah Bapak, jika memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi & jalan untuk kita berdua”
 Pemburu: “Ya Dik. Tapi tolong, setelah ini. Jika berkunjung ke kebun binatang, jangan pernah mengenangku lagi ya, agar kamu gak sedih lagi.”
Istri: “ lhoh … lha memang kenapa Pak?”
Pemburu: “karena aku telah membuat gendut perut singa itu”
Istinya: “Hah …, Bapak serong dengan singa, keterlaluan benar!!!
Pemburu: “Bukan Dik, aku dimakan ….
Istri: ?????

Curhatan Warga Desa

Ironi: Galengan* ROSID WURYANTO · SABTU, 12 OKTOBER 2019 ·1 MENIT   ..., “ Ki Lurah, cukup satu saja permintaan kami, embung !!! Janga...