Senin, 11 Mei 2020

JANNETA DAN PER-4-AN JALAN CIU

Kira-kira waktu itu asap membumbung pekat. Itu terlihat ketika terang matahari memudar hitam di atas langit saat Janto mengayuh sepeda menuju rumahnya. Pulang. Setelah ia menguras otaknya di akhir ujian Ebtanas sekolah tingkat pertama, 12 140598. Ia mengayuh pelan melintasi beberapa aparat di sepanjang jalan. Satu orang aparat bersenjata brem, kala itu, menghalau Janto dan meminta berhati-hati saat melintas jalan itu.

..., Janto melewati jalan kampung menikmati hamparan sawah. Ia terpaksa tidak melewati jalan biasanya. Karena persis saat itu, santer terdengar, ada toko bangunan terkenal dekat pasar itu terbakar atau isunya dibakar massa. Janto pun menurut, toh jalan itu juga lebih cepat sampai di rumah, ...

..., Janto hidupkan TV hitam putihnya, sekilas tampak sejumlah bangunan terbakar dan lautan massa dalam tampilan berita yang dilihatnya.Menjelang asar, listrik kembali padam dan Janto bolak-balik mencabut kabel Tvnya.

..., Magrib listrik belum menyala. Sayup-sayup terdengar suara mesin diesel di tempat hajatan kampung. Janto beranjak. Ia bertiga mengayuh sepeda menuju Jalan Ciu. Janto ingin kembali melihat aparat yang berjaga dan melintas gagah di atas truk patroli. Seperti impian Janto yang diidamkannya setelah lulus sekolah ingin menjadi tentara.

..., Perempatan itu, suasana malam. Hanya hilir mudik truk-truk patroli yang terlihat. Banyak aparat sedang berjaga-jaga. Karena santer terdengar kabar, isu menyebar bahwa akan ada pembakaran pabrik konveksi terbesar itu. Dan ternyata hanya embusan isu yang tidak benar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, ....

..., Tiarap. Seakan dikomando. Janto dan beberapa orang tiarap. Tepat di tengah perempatan itu. Tanpa diketahui dari mana asalnya, tiba-tiba sejumlah aparat meminta kerumunan massa di jalan-jalan sekitar perempatan agar segera membubarkan diri.

..., “Janto, ayo mulih. Wis bengi (Janto, ayo pulang. Sudah malam), kata oNe, iwan temanku.

Sesuk mrene meneh nonton kahanane kaya apa neh (besuk ke sini lagi melihat suasananya seperti apa),” sambung MarTa kembali.

..., “Yo wis, sesuk goncengan wae (Ya sudah. Besuk berboncengan saja), timpal Janto.
Mereka bertiga menuju rumahnya.

Dan pagi sayup-sayup terdengar celoteh tetangga sebelah.
..., “Deretan toko sudah banyak yang terbakar di sekitar perempatan & banyak kumpulan massa di sekitar itu ...”

Pelan-pelan. Janto terjaga dari tidurnya. Tampak slide akhir film dokumenter 98 di laptopnya masih menyala. Ia kembali menontonnya mulai dari awal.

Eksperimental Sinopsis : Janneta dan Per-4-tan Jalan Ciu, Ngls. 19              




1 komentar:

  1. Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

    BalasHapus

Curhatan Warga Desa

Ironi: Galengan* ROSID WURYANTO · SABTU, 12 OKTOBER 2019 ·1 MENIT   ..., “ Ki Lurah, cukup satu saja permintaan kami, embung !!! Janga...