POJOK WC UMUM
SINOPSIS
Momon, Mahasiswa di perguruan tinggi yang jauh dari kota, seorang anak kos, di masa terpelajarnya muncul fikiran untuk memulai usaha. Hadirnya sebuah pemikiran menjaga WC umum. Di sini dia menemukan keanekaragaman suasana kehidupan manusia yang terlepas dari titik kemewahan. Hadirnya cinta membawa keindahan bagi Momon, Dina sosok yang telah mampu mengikat hatinya.
PELAKU
1. Momon
2. Adita
3. Dina
4. Susi
5. Muntul
6. PSK
7. Rendi
8. Figuran
SETTING
1. Kampus
- Scene VI dan VIII
2. Terminal/Stasiun
- Scene IV, V, VII, X, dan XII
3. Gerbang Kampus
- Scene XI
4. Rumah Dina
- Scene III, IX, dan XIII
5. Jalan
- Scene II
6. Kos putra
- Scene I
Properties
1. Scene I
- Koran
- Sapu lantai
2. Scene II
- Tas
- Uang recehan
3. Scene III
- Buku
- Silverqueen
4. Scene IV
- Meja
- Uang recehan
5. Scene V
- Uang kertas
- Sebungkus Rokok
6. Scene VI
- Rokok
7. Scene VII
- Rokok
- Sebungkus kacang
8. Scene VIII
- Kertas
9. Scene IX
- Telepon rumah
10. Scene 10
- Tas
11. Scene XI
- Sepeda motor
12. Scene XII
- Rokok
- Angkutan umum/bus
13. Scene XIII
- Gelas minum
- Nampan
TIME SCHEDULE
1. Tahap Casting
2. Tahap Shot
3. Tahap Editing
4. Tahap Launching
Plot Script
(SHOT: 13 SCENE)
FADE IN:
SCENE I
INT. KOS-RUANG TAMU-PAGI
Ibu kos sedang menyapu kos. Momon di kamarnya.
Ibu kos
Nggak pergi kuliah, Mon?
Momon
(Sambil membolak-balikan koran yang habis dibelinya).
Nanti Bu, kuliahnya masuk siang kok!
SCENE II
EXT. JALAN DEPAN KOS-SIANG
Waktu berjalan mendekati panasnya siang ini, dengan berbekal tas dan terselip uang recehan buat bayar angkot, momon meninggalkan kosnya.
Adita
(keluar dari halaman kos)
Mon…mon mau kuliah!
Momon
(sambil menghentikan langkahnya)
Iya dong, masak rapi begini mau kepasar, lihat-lihat dit!
Adita
(sambil mengusap matanya).
Iya-iya mon, gitu aja kok sewot, kan tahu sendiri aku min, lagian kacamataku pecah gara-gara berantem kemarin!
Momon
(sambil melanjutkan langkahnya).
Berantem! gara - gara Epi lagi! cewek saja kamu ributin dit, memang gak ada cewek lain lagi apa ?
Adita
(sambil cengar-cengir).
Bukan begitu mon, soalnya aku sudah rela tumpah darah demi Epi tersayangku.
Momon
(sambil bercanda)
Tapi kan ujung-ujungnya bonyok! sok pahlawan!, pahlawan kok berantem, pahlawan itu maju perang demi Negara, bukan demi cewek
Adita
(sedikit kesal)
Udah-udah jangan diterusin nanti malah kemana-kemana lagi,”
SCENE III
INT. RUMAH DINA-TERAS RUMAH- SIANG
Susi
(sambil membolak-balik buku yang dibacanya.)
Din ngomong-ngomong gimana kabar tersayangmu, dah pulang belum dari luar kotanya?
Dina
(sambil makan silver queen)
Kayaknya belum Sus, soalnya dari tadi nggak sms aku kalau dia sudah pulang.
Susi
(sambil menghentikan membacanya)
O…..begitu, eh din kamu tahu nggak sekarang momon udah jadi
juragan loh!
Dina
(sambil mendekat kearah susi)
Memangnya kerja apa dia, kok tahu-tahu udah jadi juragan?
Susi
(sambil mencari tempat duduk)
Itu lho jadi juragan toilet
Dina
(sambil terkejut)
Apa! yang bener Sus?
Susi
(sambil meneruskan membaca bukunya)
Iya Din! kalau tidak salah sudah satu bulan ini
Dina
(sambil menggelengkan kepalanya)
Padahal aku lihat si momon itu orangnya macho banget dan sepertinya dilihat dari tampangnya dia anak tajer deh!
Susi
(setengah menoleh sambil meneruskan membolak-balikkan bukunya)
Tampang sih memang kelihatan, tapi kan butuh duit juga untuk tetap hidup”
SCENE IV
EXT. TERMINAL-POJOK WC UMUM-SIANG
Momon
(sambil mempersilahkan orang-orang yang datang ke toiletnya)
Silahkan Pak, Bu, mBak, Mas!”
CUT TO:
Seorang bapak dan seorang cewek keluar dari toilet dan menghampiri momon yang menjaga toilet tersebut.
Bapak
(sambil mengeluarkan dompetnya)
Berapa?
Momon
(sambil tersenyum)
Biasa Pak! gopek saja”
(Sambil menunjuk kearah gadis dibelakang bapak itu)
Tidak sekalian dengan puterinya Pak!
Bapak
(sambil mengambil recehan dan menyerahkan kepada momon)
Tidak, lain itu!
Momon
(sambil menerima uang itu dan tersenyum)
Oh kirain anak Bapak, maaf Pak!
(memandang bapak itu yang berlalu)
Terima kasih Pak!
CUT TO:
SEORANG GADIS GANTIAN MENDEKATI MOMON.
Cewek
(sambil memberikan uang gopekan dan sedikit kesal pada momon dan berlalu)
“Mas ini ada-ada saja, orang tidak mirip sama sekali kok dibilang anaknya,”
Momon
(sambil menerima uang gopek dari gadis itu dan cengar-cengir)
Maaf mBak! ndak tahu!
SCENE V
EXT. TERMINAL-POJOK WC UMUM-SIANG
Muntul
(sambil menyerahkan uang kertas)
Mon tukar recehan dong buat pasang!
Momon
(sambil mengetuk-ngetuk mejanya)
Nggak ada tul! dari pagi sepi banget! buat pasang apa?
Muntul
(sambil kembali menyodorkan uang kertas itu)
Ya judi dong, masak tukar recehan buat pasang ban! Kan untung
bisa untuk beli rokok! tolongin deh!”
Momon
(sambil mengeluarkan sebukus rokok dari sakunya)
Dibilangin nggak ada, kalau mau rokok ini aku kasih! Tapi sebatang saja
Muntul
(nada marah dan emosi)
Setan! kamu mau cari gara-gara dengan aku Mon!, ngajak berantem!
Momon
(sambil memandang muntul sambil sedikit terpancing emosinya)
Loh-loh yang cari gara-gara kamu atau aku, aku bermaksud baik!
kok kamu begitu!”
Muntul
(sambil menarik momon dari tempat duduknya)
Baik mata kamu!
Keduanya pun berkelahi, terang saja momon kalah, dilihat dari fisiknya yang tak memungkinkan sebanding, untung saja ada beberapa orang yang melerainya dan mereka pun didamaikan (tidak ada masalah lagi)
SCENE VI
EXT. KAMPUS-BERANDA KAMPUS-SIANG
Adita
(sambil memandangi cewek-cewek diberanda kampusnya)
Eh mon gimana usaha kamu, lancar-lancar saja kan?
Momon
(sambil menghembuskan rokoknya)
Ya begitulah dit, bisa sedikit-sedikit beli buku sama makan!
Adit
(sambil tersenyum)
Mon! kemarin dapat salam dari feri katanya salam buat tukang toilet, kalau mau jaga, sekalian jaga toilet di kampus!
Momon
(sambil emosi)
Apa kamu bilang dit, feri bilang begitu, mana orangnya!
Adit
(sambil meraih pundak momon yang mau pergi)
Eh…eh mon sabar dulu! Jangan emosi gitu dong, lagian kalau kamu ngelabrak dia, yang salah bukannya dia tapi kamu mon! lagian seburuk apapun yang dikatakan, itu kan usaha kamu, jadi jangan cepat emosi gitu! “
Momon
(sambil duduk kembali dan tersenyum)
Benar juga kamu dit, tumben hari ini kamu pinter”
Adita
(sambil tersenyum)
Iya dong anak kuliahan, harus pintar dong buat kata-kata
SCENE VII
EXT. TERMINAL-POJOK WC UMUM -SIANG
Muntul
(sambil mengunyah kacang yang habis dibelinya)
Mon, kemarin katanya disini ada keributan?
Momon
(sambil menghidupkan rokoknya)
Ada tul, Ronan sama anak-anak pengamen buat gara-gara lagi! gangguin anak sekolahan, yang tak habis pikir malah ada anak siswi
dipelorotin roknya, kontan saja dia nangis
Muntul
(sambil membuang kulit kacangnya)
Emangnya kenapa sih, kok beritanya meluas dan kemarin aku lihat di koran wajah mereka ada di situ?
Momon
(sambil menghembuskan asap rokoknya keudara)
Salah sendiri Ronan sama anak pengamen itu, padahal kalau dia tahu sebenarnya siapa anak siswi itu mungkin hari ini dia pasti sudah genjrang-genjreng dapat duit!
Muntul
Loh emangnya siapa?
Momon
Itu anaknya kapolresta sini!
Muntul
(sambil tercengang)
Hah…, mampus dong Ronan, bisa bonyok dia dipenjara!”
Momon
(sambil terus menghirup rokoknya)
Makanya jangan usil, kan sudah tahu gimana!
Muntul
(sambil tersenyum)
Iya deh mon, sekali aja”
SCENE VIII
EXT. KAMPUS-TERAS KAMPUS-SIANG
Wajah Susi dan Dina kembali bersinar setelah hasil MID nya memperoleh nilai A dan hari ini dia habiskan untuk ngobrol di depan ruang kuliahnya.
Dina
(sambil melihat hasil MIDnya)
Eh sus aku kok hari ini banyak kepikiran ya sama Momon! padahal aku tiap hari ketemu dia di kampus!
Susi
(sambil membenahi duduknya)
Terang aja, yang paling banyak ngobrol sama kamu kan momon,
Jadi ya beg itulah!
Dina
(sambil membolak-balik lembar jawaban MIDnya)
Kok kayaknya ada sedikit perhatian ya akhir-akhir ini sama momon,
ada apa ya sus?
Susi
(sambil tertawa)
Barangkali kamu kangen sama pacar kamu,
gak pernah disentuh ya sama dia?
Dina
(mengeluh)
Kangen sih iya sus, tapi kalau tidak ketemu beberapa hari kan
gregetan juga”
Susi
(menyindir)
Luar kota lagi!
Dina
(sambil merengut)
Tau Sus! Orang kemarin aku telpon, eh malah jawabnya,
aku lagi dipasar beli sayur disuruh ibu belanja!
Susi
Loh kan enak dong punya pacar bisa belanja
Dina
(sambil melempem)
Enak apaan, waktu buat aku mana coba?
Susi
(sambil ketawa)
Ya sudah sabar saja, laki-laki kan juga butuh kegiatan lain, ya sekedar solusi nih Din, mendingan kamu nikah saja sama dia,
pasti tiap hari ketemu deh!
Dina
Maunya!, nggak sus, aku mau kuliah dulu!
Susi
Emangnya kalau nikah tidak boleh kuliah apa?
Dina
Ya tidak sus, apa kamu senang kalau aku harus bawa perut gede ke kampus, nanti dikira ngalahin si metty gendut lagi!
Susi
Ya nggak din, metty kan gendutnya seluruh tubuh,
sedang kamu cuma diperut saja!
Dina
(sewot)
Ndak, pokoknya nggak! kamu saja yang nikah!
Susi
Sama siapa?
Dina
(sambil menggerutu)
Tahulah, yok pulang!
SCENE IX
INT. RUMAH DINA-KAMAR TIDUR-MALAM
(Dina sedang menelpon kekasihnya)
Dina
(nada memaksa)
Pokoknya besok antar aku ke perpus!
Rendi
Nggak bisa sayang, soalnya dirumah gak ada orang, mama sama papa lagi pergi, aku disuruh jaga rumah!
Dina
(nada ngambek)
Tiap hari alasannya cuma gituan, klo ndak pergi belanja, tunggu rumah, gimana sih kamu Ren! Bilang dong kalau sudah nggak mau perhatian sama aku lagi!
Rendi
Bukan gitu sayang, tapi!
Dina
(sambil marah dan menutup telponnya)
Tapi….tapi! kalau begitu sekarang lebih baik kita nggak usah lanjutin hubungan kita, aku minta putus saja dari kamu ren!
Rendi
(setengah terkejut)
Loh kok gitu! yang! yang…yang hallo….hallo yang!
SCENE X
EXT. TERMINAL-POJOK WC UMUM -SORE
Di toilet yang dijaga momon, seorang cewek yang belum menginjak kepala tiga menghampiri momon yang lagi duduk-duduk sendiri.
PSK
(sambil mendekati momon)
Mon ngamar yok! Seratus ribu aja cukup kok!
Momon
Eit tunggu dulu! Hari gini udah pingin, nggak ah!
Mendingan cari yang lain saja!
PSK
(sambil mengelus-elus pundak momon)
Emang dagangan apa! Eh gini-gini aku standarnya gede mon! kalau aku nggak baik, mungkin aku nggak akan milih kamu,
Momon
(sambil melepaskan tangannya dari pundaknya)
Nggak ah! nggak lihat aku lagi kerja?
PSK
Tapi malam bisa kan mon?
Momon
Pokoknya ndak!
PSK
(berlalu)
Ya udah! Bego lho! Dikasih baik-baik nggak mau!
SCENE XI
EXT. GERBANG KAMPUS-SORE
Dina
(sambil menghentikan motornya)
Mon! tunggu sebentar!
Momon
(sambil menghentikan langkahnya)
Ada apa din?
Dina
(sambil menyandarkan motornya)
Aku pingin ngomong sama kamu mon! kamu gak keberatan to?
Momon
(sambil mencari tempat ngobrol)
Ya udah! Yok cari tempat yang enak buat ngobrol
(sambil duduk dibawah gerbang kampus)
Tumben sendirian din, susi mana?
Dina
(sambil mengusap peluh diwajahnya)
Oh susi, tadi dia bilang mau ke basecamp dulu, ada kegiatan katanya!
Eh mon dengar-dengar sekarang kamu udah punya usaha baru ya?
Momon
Iya din usaha kecil-kecilan kok!, eh emangnya kenapa?
Dina
Nggak cuma nanya aja! nggak apa-apa kan?
Momon
Nggak apa-apa kok! Tumben hari ini mau ngobrol sama aku,
kayaknya penting banget!
Dina
Iya nih mon, aku hari ini sangat kesal banget!
Momon
Ngapain kesel segala, orang aku lihat kayaknya kamu bahagia banget,
emang ada apa sih?
Dina
Begini mon, sebenarnya aku telah kehilangan seorang yang sangat aku sayangi kemarin!
Momon
(sambil terkejut)
Hah….. kamu putus! gimana ceritanya kamu bisa putus din?
Dina
Biasa Mon! aku sebel banget sama diai, gak bisa diandalkan
akhir-akhir ini!
Momon
Lo…lo… memangnya dia nggak sayang lagi apa!
Dina
Iya mon! Masak suruh ngaterin aku keperpus saja gak mau, alasan gitu lah, ginilah, sampai pusing dengernya!
Momon
Oh gitu ya? Lha terus gimana?
Dina
Ya begitulah mon! eh mon ngomong-ngomong dari waktu pertama kali kamu masuk ke kampus ini sampai sekarang tidak ada cewek yang aku lihat bersama kamu, maksud aku pacar gitu loh mon!
Momon
Pacar din! Kalau soal pacar memang untuk sementara ini belum ada din! tapi kalau temen cewek sih banyak, cantik-cantik lagi din!
Dina
Berarti aku juga cantik dong mon? aku kan teman kamu, ya nggak?
Momon
Iya….iya aku tahu, tapi kamu cantiknya kalau pas ketemu aku sih!
Dina
Memangnya gimana kalau bisa terus ketemu mon?
Momon
(sambil menggaruk-garuk kepalanya)
Ya apalah! cinta kek, tunangan kek atau lebih enaknya nikah barangkali?
Dina
(sambil tersenyum)
Hah…..maunya! tapi nggak apa-apa deh!
Momon
Jadi boleh nih?
Dina
Boleh aja, tapi jangan nikah dulu mon! kayaknya gak seru deh?
Momon
Loh……kan enak din, gak ada yang cemburuin!
Dina
Enak sih enak, tapi kan aku belum sepenuhnya tahu kamunya kayak gimana, entar kayak Rendi kebanyakan alasan?
Momon
Iya deh din, kalau begitu kita jalanin aja dulu gimana nantinya!
Dina
Serius banget kamu mon! bilang dulu kamu cinta sama aku! Masak aku yang harus bilang gitu kan nggak pantas mon!
Momon
Ya sudah! Sekarang aku mau serius nih! “yang terindah hari ini dan yang tersenyum dihadapanku sekarang, aku nyatakan rasa cinta yang sebenar-benarnya kepada bunga mawar dihadapanku,
terimalah cintaku din, sudah!
Dina
Ha ha….ha, kayak baca puisi aja mon! baiklah aku terima cintamu mon, tapi janji lho untuk selalu menjagaku, melindungiku sepenuhnya ya!
Momon
(sambil memegang tangan dina)
Iya din, makasih ya
SCENE XII
EXT. TERMINAL-POJOK WC UMUM-SORE
Sehari ini momon disibukkan di tempat usahanya, karena bertepatan dengan arus mudik.
Muntul
(sambil menghembuskan rokoknya di udara)
Wah…, bisa panen duit lo mon!
Momon
(sambil mengusap keringatnya)
Iya sih tul, tapi repot juga ngelayanin pemakai toilet ini,
banyak sekali yang datang!
Muntul
Makanya cari pembantu mon! biar tidak kerepotan ngelayaninya!
Momon
Iya…ya tul! ah gak usah deh. orang kerjanya enteng kayak gini,
lagian ramenya pas hari ini aja!
Muntul
(Muntul menuju ke angkutan umum)
Ya sudah kalau begitu! Aku pergi dulu mon! Keburu nih ngejar setoran
CUT TO:
ADIT DATANG BERSAMA EPI
Adit
Wah mon! sibuk banget?
Momon
Eh kamu dit, tumben kesini! darimana?
Adit
Biasa mon jalan-jalan sama ini Epi tercinta!
Momon
Hebat benar dit! Tidak sia-sia perjuanganmu dulu?
Adit
(sambil duduk disamping momon)
Iya lah adit! eh Mon! kemarin aku dapat pesan dari dina,
katanya besok kamu disuruh ke rumahnya
Momon
Memang ada apa dit? Penting tidak?
Adit
Mana aku tahu mon! orangnya hanya pesan itu,
tapi kayaknya penting sih mon!
Momon
(berguman)
Ada apa ya?
Adit
Pokoknya itu tadi! Eh mon sorry ya aku mau pergi jalan-jalan dulu,
nanti ndak kemalaman pulangnya!
Momon
(sambil tersenyum)
Eh hoo dit makasih ya! Kalau jalan-jalan jaga tuh Epi! entar hilang lagi!
Adit
Memangnya anak kecil apa! ya dah Mon aku pergi dulu!
Momon
Ya hati-hati!
SCENE XI11
INT. RUMAH DINA-RUANG TAMU-MALAM
Dina
Mau minum apa Mon?
Momon
Apa saja din! Terserah kamu!
Dina
Loh kok terserah, berarti minyak mau juga mon?
Momon
(sambil tertawa)
Nggak apa-apa, tapi yang minum kamu dulu kan?
Dina
(sambil mencubit tangan momon)
Ye enak aja!
Dina berlalu dan kemudian membawa minuman.
Momon
(sambil meneguk minumannya)
Eh din! Memangnya ada apa sih nyuruh aku kesini?
Dina
Mon, aku pingin ngomong sama kamu tentang hubungan kita ini!
Momon
Loh….memangnya ada apa toh? Kok kayaknya serius banget?
Dina
Nggak ada apa-apa sih mon! tapi kemarin orang tuaku bilang,
kalau kita harus lebih serius lagi.
Momon
Maksud kamu kita harus nikah!
Dina
(sambil tersipu malu)
Iya mon! orang tuaku ingin segera punya cucu
Momon
Lo….loh kalau begitu mau apa lagi, tapi ini terserah kamu din! Kamu keberatan nggak kalau nikah sekarang, kalau aku sih mau-mau saja tinggal kamunya bagaimana?
Dina
Tapi mon! sekarang yang membuat aku belum pasti, aku masih ingin kuliah dulu, biar nanti aku bisa jadi wanita yang benar-benar mengerti
tentang kesuksesan diriku.
Momon
O……..begitu, berarti kamu masih ragu! kalau begitu begini saja kamu bilang dulu sama orang tuamu bahwa kamu masih ingin belajar dulu,
pasti nanti orang tuamu mengerti deh sayang!
Pertemuan malam itu membuat Dina mengerti bahwa momon lebih memahami apa yang diharapkan dirinya bahwa dia mencintai yang sebenar-benarnya cinta tanpa ada keraguan didalamnya.
FADE OUT.
Tobe continued……………………………..!
Scene XIII Suasana Wisuda dikampus
Susi : “Selamat ya din! (sambil menjabat tangan dina)
Dina : “Makasih ya sus! Aku duluan lulusnya, cepetan lulus ya!
Susi : “Ya dina! Pokoknya nanti aku menyusul, eh ngomong-ngomong momon mana din?
Dina : “O…tadi dia menemui keluarganya dulu, sekalian perpisahan dengan teman-temannya” (sambil melepas topi toganya)
Momon: “Din!
Dina: “eh..iya mon
Senin, 25 Maret 2019
POJOK WC UMUM
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Curhatan Warga Desa
Ironi: Galengan* ROSID WURYANTO · SABTU, 12 OKTOBER 2019 ·1 MENIT ..., “ Ki Lurah, cukup satu saja permintaan kami, embung !!! Janga...
-
Kenna!!!, di Persinggahan Terakhirnya ……………Dalam perjalanan itu, tak henti-hentinya ia bertanya. “apakah ia telah sampai?”.ternyata jawabann...
-
AKU SAYANG KITA ., Agustus 2002, ketika itu semua terlihat biasa saja, semua terdiam, hanya saling berpandangan, ada yang sungkan, ada ya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar