Kira-kira waktu
itu asap membumbung pekat. Itu terlihat ketika terang matahari memudar hitam di
atas langit saat Janto mengayuh sepeda menuju rumahnya. Pulang. Setelah ia
menguras otaknya di akhir ujian Ebtanas sekolah tingkat pertama, 12 140598.
Ia mengayuh pelan melintasi beberapa aparat di sepanjang jalan. Satu orang
aparat bersenjata brem, kala itu, menghalau Janto dan meminta
berhati-hati saat melintas jalan itu.
..., Janto melewati
jalan kampung menikmati hamparan sawah. Ia terpaksa tidak melewati jalan
biasanya. Karena persis saat itu, santer terdengar, ada toko bangunan terkenal
dekat pasar itu terbakar atau isunya dibakar massa. Janto pun menurut, toh
jalan itu juga lebih cepat sampai di rumah, ...
..., Janto hidupkan TV
hitam putihnya, sekilas tampak sejumlah bangunan terbakar dan lautan massa
dalam tampilan berita yang dilihatnya. Menjelang
asar, listrik kembali padam dan Janto bolak-balik mencabut kabel Tvnya.
..., Magrib listrik
belum menyala. Sayup-sayup terdengar suara mesin diesel di tempat hajatan
kampung. Janto beranjak. Ia bertiga mengayuh sepeda menuju Jalan Ciu. Janto
ingin kembali melihat aparat yang berjaga dan melintas gagah di atas truk
patroli. Seperti impian Janto yang diidamkannya setelah lulus sekolah ingin
menjadi tentara.
..., Perempatan itu,
suasana malam. Hanya hilir mudik truk-truk patroli yang terlihat. Banyak aparat
sedang berjaga-jaga. Karena santer terdengar kabar, isu menyebar bahwa akan ada
pembakaran pabrik konveksi terbesar itu. Dan ternyata hanya embusan isu yang
tidak benar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, ....
..., Tiarap. Seakan
dikomando. Janto dan beberapa orang tiarap. Tepat di tengah perempatan itu.
Tanpa diketahui dari mana asalnya, tiba-tiba sejumlah aparat meminta kerumunan
massa di jalan-jalan sekitar perempatan agar segera membubarkan diri.
..., “Janto,
ayo mulih. Wis bengi (Janto, ayo pulang. Sudah malam), kata oNe, iwan
temanku.
“Sesuk mrene meneh
nonton kahanane kaya apa neh (besuk ke sini lagi melihat suasananya
seperti apa),” sambung MarTa kembali.
..., “Yo wis, sesuk
goncengan wae (Ya sudah. Besuk berboncengan saja), timpal Janto.
Mereka bertiga menuju
rumahnya.
Dan pagi sayup-sayup
terdengar celoteh tetangga sebelah.
..., “Deretan
toko sudah banyak yang terbakar di sekitar perempatan & banyak kumpulan
massa di sekitar itu ...”
Pelan-pelan.
Janto terjaga dari tidurnya. Tampak slide akhir film dokumenter 98 di laptopnya
masih menyala. Ia kembali menontonnya mulai dari awal.
Eksperimental
Sinopsis : Janneta dan Per-4-tan Jalan Ciu, Ngls.
19