Kamis, 26 Oktober 2023

Cerpen " Berbalik Arah " (2003)

   

Galih pagi ini terlalu bising merangkai sebuah kata-kata penting untuk Tina. Wajar Galih tidak mampu mengungkapkan kata-kata itu seumur hidupnya, bukan sebuah alasan ia tidak pernah mengungkapkan kata-kata itu sebelumnya, namun sekarang yang dia hadapi adalah seorang Tina yang sedang membumbung tinggi kariernya di entertaiment.

Terlalu berat bagi Galih ketika pertama kali menginjakkan kakinya di perumahan elite milik keluarga Tina, kalau tidak teguran satpam dan sigap Herder yang menyalak bila terlalu asing melihat orang. Namun Galih bukan seorang kerdil yang terlalu pendek dilihat orang berbadan tinggi, kedewasaan sikap sedia menjadikan Galih wibawa dan membuat itu semua hilang dari benaknya.

“Pagi Pak! sapa Galih kepada pak satpam jaga.

“Pagi! Ada perlu apa?” sahut satpam sambil memandang Galih dengan sinis, seolah menginterograsinya.

“Bisa ketemu Tina Pak?

“Tina siapa? di sini tidak ada yang namanya Tina, kalau Tina pembantu ada di samping perumahan ini’ kata satpam ketus.

“Bukan Tina itu Pak! Tina yang sekarang terkenal itu!”

“Tina toon!”

“Bukan Pak!” kata Galih sedikit kesal dan memutuskan untuk pergi saja daripada semakin ruwet urusannya.

Dalam perjalanannya diwarnai kejengkelan dan sedikit mengumpat pada satpam yang baru saja ditemuinya, padahal menurutnya, perumahan tadi benar milik Tina. Terbayang kini hasrat untuk mengungkapkan perasaan seakan tiada berarti lagi dihati Galih, sejumlah kata-kata yang telah disusun seolah sudah tidak ingin menjadi bagian dari pikirannya, semua sirna ketika Galih jatuh dari tempat tidur.

“Sialan” umpat Galih meringis kesakitan.

“Lih....Galih cepat bangun! teriak mBoknya.

“Iya mBok!” Sahut Galih dan beranjak keluar dari kamar tidurnya.

“Ada apa mBok?”

“Begini Lih, simbok sekarang mau tirakatan pernikahan Sumi, kamu jaga rumah dulu, soalnya Pak Kades katanya mau ke sini ngurus sertifikat tanah” kata simbok sambil membenahi kebayanya.

“Ah simbok! Kan ada Nunik?”

“Nunik mau ikut tirakatan sama simbok, kamu saja yang jaga rumah”

“Ya sudah kalau begitu” kata Galih sambil menulisi amplop sumbangan.

Galih terbayang ketika pertama kali ia bertemu Tina dalam acara Talk Show di Solo Grand Mall, Galih pernah menjadi panitia acara tersebut, sehingga wajar bila Galih mengenal Tina. Semangat juang Galih dalam menarik simpati Tina terobsesi oleh pepatah Jawa Tak akan lari gunung dikejar menjadikan Galih mempunyai niat untuk mengenal Tina lebih jauh.

Bait-bait syair lagu kembali memecah keheningan rumah Galih, suara penyiar radio dengan lembutnya mengisi suasana diri seorang mahasiswa semester tujuh ini. Lagu-lagu Ebiet terdengar mengalun seakan tahu Galih sedang mendendam rasa hatinya yang kacau, yang merindukan di mana gerangan Tina sebagai curahan rasa sayangnya itu.

“tulalit.......tulalit.........” Suara dering ringtone sms Hpnya. Tertulis pesan berbunyi:

Mas Galih, skrg q di SGM, u bs ke sni ndak?, Tina.

Sender:

+6285677963215

Kontan Galih tersenyum setelah membaca pesan sms tersebut, wajah muram yang bergelanyut dari tadi siang kini berubah menjadi warna cahaya, jiwa Galih semakin terasa kuat untuk segera menemui Tina yang telah menjadi pujaannya itu.

Solo Grand Mall terlihat ramai, pusat tongkrongan anak muda Solo ini tampak begitu indah dilihat Galih, karena keindahannya tidak hanya gedungnya, namun kehadiran Tina di tempat ini membuat dirinya mengagumi pusat perbelanjaan ini. Peluh semakin menetes di wajah Galih, namun niatnya untuk segera menemui Tina semakin membuat dirinya bersemangat.

Di tengah kerumunan anak muda, Galih sudah tidak memperdulikan lagi, setengah berlari sambil melihat kanan-kiri kalau saja Tina sudah dilihatnya ataupun Tina melihat kedatangannya. Namun lebih dari satu jam mencari ternyata wajah Tina tidak kelihatan.

Galih bersandar pada pagar pembatas lantai tiga sambil mengusap peluh yang sedari tadi terus mengucur dari wajahnya. Di antara lelah, Galih mencoba untuk kembali mencari Tina, namun ternyata hasilnya sama saja sampai terdengar dari pengeras suara memberitahukan kalau lima belas menit lagi Solo Grand Mall akan segera tutup.

Dengan langkah gontai, Galih beranjak meninggalkan tempat itu. Wajah murung kembali menyapa Galih dan dia kini terlelap di ranjang tidurnya, bahkan omelan simbok kini sudah tidak terdengar lagi ditelinga.  

Galih tak menyadari kekeliruannya, sebenarnya sms Tina memang diterima Galih hari ini, namun Tina mengirimnya satu minggu kemarin, kecerobohan memang menjadikan semuanya tanpa disadari dan menuai hasil lelah.

“Pak, kalau ada yang mencari saya, namanya Galih, suruh masuk saja, biasanya dia memanggil saya Tina.” kata Tina kepada satpam rumahnya.

Sebuah pertanyaan mengapa Galih tidak ke rumah Tina, apakah dia terlalu takut mimpinya menjadi kenyataan.   

Curhatan Warga Desa

Ironi: Galengan* ROSID WURYANTO · SABTU, 12 OKTOBER 2019 ·1 MENIT   ..., “ Ki Lurah, cukup satu saja permintaan kami, embung !!! Janga...