Galih pagi ini terlalu
bising merangkai sebuah kata-kata penting untuk Tina. Wajar Galih tidak mampu
mengungkapkan kata-kata itu seumur hidupnya, bukan sebuah alasan ia tidak
pernah mengungkapkan kata-kata itu sebelumnya, namun sekarang yang dia hadapi
adalah seorang Tina yang sedang membumbung tinggi kariernya di entertaiment.
Terlalu berat bagi Galih
ketika pertama kali menginjakkan kakinya di perumahan elite milik keluarga
Tina, kalau tidak teguran satpam dan sigap Herder yang menyalak bila terlalu
asing melihat orang. Namun Galih bukan seorang kerdil yang terlalu pendek
dilihat orang berbadan tinggi, kedewasaan sikap sedia menjadikan Galih wibawa dan
membuat itu semua hilang dari benaknya.
“Pagi Pak! sapa Galih
kepada pak satpam jaga.
“Pagi!
Ada perlu apa?” sahut satpam sambil memandang Galih dengan sinis, seolah
menginterograsinya.
“Bisa
ketemu Tina Pak?
“Tina siapa? di sini tidak
ada yang namanya Tina, kalau Tina pembantu ada di samping perumahan ini’ kata
satpam ketus.
“Bukan Tina itu Pak! Tina
yang sekarang terkenal itu!”
“Tina toon!”
“Bukan Pak!” kata Galih
sedikit kesal dan memutuskan untuk pergi saja daripada semakin ruwet urusannya.
Dalam perjalanannya
diwarnai kejengkelan dan sedikit mengumpat pada satpam yang baru saja ditemuinya,
padahal menurutnya, perumahan tadi benar milik Tina. Terbayang kini hasrat
untuk mengungkapkan perasaan seakan tiada berarti lagi dihati Galih, sejumlah
kata-kata yang telah disusun seolah sudah tidak ingin menjadi bagian dari
pikirannya, semua sirna ketika Galih jatuh dari tempat tidur.
“Sialan” umpat Galih meringis
kesakitan.
“Lih....Galih cepat
bangun! teriak mBoknya.
“Iya mBok!” Sahut Galih
dan beranjak keluar dari kamar tidurnya.
“Ada apa mBok?”
“Begini Lih, simbok
sekarang mau tirakatan pernikahan Sumi, kamu jaga rumah dulu, soalnya Pak Kades
katanya mau ke sini ngurus sertifikat tanah” kata simbok sambil membenahi
kebayanya.
“Ah simbok! Kan ada Nunik?”
“Nunik mau ikut tirakatan
sama simbok, kamu saja yang jaga rumah”
“Ya sudah kalau begitu” kata
Galih sambil menulisi amplop sumbangan.
Galih terbayang ketika pertama
kali ia bertemu Tina dalam acara Talk Show
di Solo Grand Mall, Galih pernah menjadi panitia acara tersebut, sehingga wajar
bila Galih mengenal Tina. Semangat juang Galih dalam menarik simpati Tina terobsesi
oleh pepatah Jawa Tak akan lari gunung dikejar
menjadikan Galih mempunyai niat untuk mengenal Tina lebih jauh.
Bait-bait syair lagu
kembali memecah keheningan rumah Galih, suara penyiar radio dengan lembutnya
mengisi suasana diri seorang mahasiswa semester tujuh ini. Lagu-lagu Ebiet terdengar
mengalun seakan tahu Galih sedang mendendam rasa hatinya yang kacau, yang
merindukan di mana gerangan Tina sebagai curahan rasa sayangnya itu.
“tulalit.......tulalit.........”
Suara dering ringtone sms Hpnya. Tertulis pesan berbunyi:
Mas
Galih, skrg q di SGM, u bs ke sni ndak?, Tina.
Sender:
+6285677963215
Kontan Galih tersenyum
setelah membaca pesan sms tersebut, wajah muram yang bergelanyut dari tadi
siang kini berubah menjadi warna cahaya, jiwa Galih semakin terasa kuat untuk
segera menemui Tina yang telah menjadi pujaannya itu.
Solo Grand Mall terlihat
ramai, pusat tongkrongan anak muda Solo ini tampak begitu indah dilihat Galih,
karena keindahannya tidak hanya gedungnya, namun kehadiran Tina di tempat ini
membuat dirinya mengagumi pusat perbelanjaan ini. Peluh semakin menetes di
wajah Galih, namun niatnya untuk segera menemui Tina semakin membuat dirinya
bersemangat.
Di tengah kerumunan anak
muda, Galih sudah tidak memperdulikan lagi, setengah berlari sambil melihat
kanan-kiri kalau saja Tina sudah dilihatnya ataupun Tina melihat kedatangannya.
Namun lebih dari satu jam mencari ternyata wajah Tina tidak kelihatan.
Galih bersandar pada pagar
pembatas lantai tiga sambil mengusap peluh yang sedari tadi terus mengucur dari
wajahnya. Di antara lelah, Galih mencoba untuk kembali mencari Tina, namun
ternyata hasilnya sama saja sampai terdengar dari pengeras suara memberitahukan
kalau lima belas menit lagi Solo Grand Mall akan segera tutup.
Dengan langkah gontai,
Galih beranjak meninggalkan tempat itu. Wajah murung kembali menyapa Galih dan
dia kini terlelap di ranjang tidurnya, bahkan omelan simbok kini sudah tidak
terdengar lagi ditelinga.
Galih tak menyadari
kekeliruannya, sebenarnya sms Tina memang diterima Galih hari ini, namun Tina
mengirimnya satu minggu kemarin, kecerobohan memang menjadikan semuanya tanpa
disadari dan menuai hasil lelah.
“Pak, kalau ada yang mencari
saya, namanya Galih, suruh masuk saja, biasanya dia memanggil saya Tina.” kata
Tina kepada satpam rumahnya.
Sebuah pertanyaan mengapa
Galih tidak ke rumah Tina, apakah dia terlalu takut mimpinya menjadi kenyataan.