Begitu banyak hal terindah tersampaikan
dalam hatimu untuk dunia
Berjuta nasihat bak perhiasan jernih
tertanam dalam langkah-langkah ini
Semesta bijak merengkuh jiwa
yang kini menghilang tanpa lelah
Menaungi wacana suci dalam garis pena
mengukir indah untuk anakmu
Jauh menghilang dalam perjalanan hidup
berpetualang bahagia menghadap pencipta
Yang tetap hidup dalam kesejukan
tak pernah mati, tak terkikis habis
Semua bangga mencintaimu
mendamai harum bersamamu
Ku nanti perjumpaan kelak
dalam ukiran bahagia disana
010208
Selasa, 27 Juli 2010
Kenna!!!, di Persinggahan Terakhirnya
Kenna!!!, di Persinggahan Terakhirnya
……………Dalam perjalanan itu, tak henti-hentinya ia bertanya. “apakah ia telah sampai?”.ternyata jawabannya “belum”. Ia masih berfikir dua kali untuk itu. “kenapa belum?”, karena memang belum selesai perjalanan itu. Ia lantas kembali melangkah hingga mencapai apa yang semestinya dicari.
………….Saat pagi menjelang senja dan berlanjut ke malam. Tiada hentinya melangkah. Sebentar istirahat, kemudian melanjutkan hingga sekian waktu memaksanya untuk kembali bertanya. “sudahkah aku sampai?” ternyata jawabannya pun sama. “untuk sementara belum,” jawabnya lagi.
………….tanpa menggubris, ia teruskan langkahnya. Temaram pelita yang menyala redup, tak hentinya terus menerangi. Seolah samar-samar membantunya berjalan pelan.
…………sempat ia lelah, namun sempat pula berfikir, bukan saatnya mengadu dan mengeluh, karena ia belum sepenuhnya berjalan, ia tahu, karena ia mesti terjungkal dulu, baru kemudian bangun lagi………
………………..hingga suatu saat, ia berhenti sebentar, karena perlu mengusap keringatnya. Dan menuliskan hal-hal yang terekam dalam pandangan, agar kelak ia bisa menceritakan apa saja yang nampak. Dan sekedar untuk memberitahukan kepada seseorang yang membuatnya bertahan.
………..lain halnya, ia sendiri adalah penulis, pujangga dalam sebuah tanya. Sehingga wajar, jika ia harus mengumpulkan informasi dan inspirasi yang didapatnya, agar kelak ia mampu mewujudkan aktualisasinya…………….
…………..Sejenak, ia pun kembali melanjutkan perjalanan itu, terasa semakin mudah, karena terobati disaat berhenti tadi. Ia sempat berfikir, kenapa tidak sedari tadi ia istirahat, daripada terus bertanya tentang pencapaian perjalanan, walaupun jawabannya diketahui “belum”
……………..Semakin berjalan, ia tak hentinya berujar tentang sesuatu dalam empat tujuan pencapaian, yakni; 1) harapan masa depan, 2) Tanggung jawab kepatuhan, 3) Pengamalan ilmu, 4) Perihal jodoh. Empat tujuan yang harus ditempuh dalam setiap tahapan kesatuan. Dikombinasikan dalam proses panjang untuk mengganti kelelahan perjalanan itu.
……………….Selanjutnya ia berusaha mengkombinasikannya dalam target . Untuk 1-3, ia telah mengerti , namun yang ke 4, tentang jodoh adalah sesuatu yang telah disunahkan untuk dijalani, namun untuk itu ia mesti melangkah melewati tahapan dari 1-3, barulah ketahap 4nya.
……………Sebenarnya ia pernah memunculkan jodohnya tanpa melewati 1-3, namun apa yang semestinya didapat, berkebalikan, karena ia tahu, tanpa melewati itu semua (1-3), semua tak berarti. Namun ia tidak pernah menyanggahnya, karena terkadang tanpa melewati itu semua, tahap ke 4 sudah didapatkannya, karena pertimbangan nasib dan kejadian yang luar biasa.
…………Semakin tak menentu, tapi dalam perjalanan mesti dilanjutkan, karena ia ingin mencapainya. Ia memang dibayangi oleh pikiran-pikiran itu, tapi ini sebuah anugerah, karena buatnya dengan pikiran-pikiran itu, ia tidak mudah jenuh, dan lebih leluasa untuk tetap menentukan arah yang benar, arah hidup yang ia tahu bukan hanya teori saja, melainkan harus dibuktikan kebenarannya.
……….Kenna, hingga suatu saat, ia berusaha dan benar-benar berhenti untuk mencapai titik tolak yang semestinya diperoleh. Sebuah persinggahan yang mengandung target-target dari tujuan itu. Sehingga hal itulah yang membuatnya lupa akan pertanyaannya dulu yang dirasakan jawabannya hanya itu-itu saja. Dan sekarang ia memiliki pertanyaaan “kenapa tidak untuk sebuah persinggahan itu, kenna. Sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab dikemudian.
……………….., hanya untuk orang-orang yang memiliki kepekaan jiwa.
…………Kenna; nanti (bahasa Banjar)
……………Dalam perjalanan itu, tak henti-hentinya ia bertanya. “apakah ia telah sampai?”.ternyata jawabannya “belum”. Ia masih berfikir dua kali untuk itu. “kenapa belum?”, karena memang belum selesai perjalanan itu. Ia lantas kembali melangkah hingga mencapai apa yang semestinya dicari.
………….Saat pagi menjelang senja dan berlanjut ke malam. Tiada hentinya melangkah. Sebentar istirahat, kemudian melanjutkan hingga sekian waktu memaksanya untuk kembali bertanya. “sudahkah aku sampai?” ternyata jawabannya pun sama. “untuk sementara belum,” jawabnya lagi.
………….tanpa menggubris, ia teruskan langkahnya. Temaram pelita yang menyala redup, tak hentinya terus menerangi. Seolah samar-samar membantunya berjalan pelan.
…………sempat ia lelah, namun sempat pula berfikir, bukan saatnya mengadu dan mengeluh, karena ia belum sepenuhnya berjalan, ia tahu, karena ia mesti terjungkal dulu, baru kemudian bangun lagi………
………………..hingga suatu saat, ia berhenti sebentar, karena perlu mengusap keringatnya. Dan menuliskan hal-hal yang terekam dalam pandangan, agar kelak ia bisa menceritakan apa saja yang nampak. Dan sekedar untuk memberitahukan kepada seseorang yang membuatnya bertahan.
………..lain halnya, ia sendiri adalah penulis, pujangga dalam sebuah tanya. Sehingga wajar, jika ia harus mengumpulkan informasi dan inspirasi yang didapatnya, agar kelak ia mampu mewujudkan aktualisasinya…………….
…………..Sejenak, ia pun kembali melanjutkan perjalanan itu, terasa semakin mudah, karena terobati disaat berhenti tadi. Ia sempat berfikir, kenapa tidak sedari tadi ia istirahat, daripada terus bertanya tentang pencapaian perjalanan, walaupun jawabannya diketahui “belum”
……………..Semakin berjalan, ia tak hentinya berujar tentang sesuatu dalam empat tujuan pencapaian, yakni; 1) harapan masa depan, 2) Tanggung jawab kepatuhan, 3) Pengamalan ilmu, 4) Perihal jodoh. Empat tujuan yang harus ditempuh dalam setiap tahapan kesatuan. Dikombinasikan dalam proses panjang untuk mengganti kelelahan perjalanan itu.
……………….Selanjutnya ia berusaha mengkombinasikannya dalam target . Untuk 1-3, ia telah mengerti , namun yang ke 4, tentang jodoh adalah sesuatu yang telah disunahkan untuk dijalani, namun untuk itu ia mesti melangkah melewati tahapan dari 1-3, barulah ketahap 4nya.
……………Sebenarnya ia pernah memunculkan jodohnya tanpa melewati 1-3, namun apa yang semestinya didapat, berkebalikan, karena ia tahu, tanpa melewati itu semua (1-3), semua tak berarti. Namun ia tidak pernah menyanggahnya, karena terkadang tanpa melewati itu semua, tahap ke 4 sudah didapatkannya, karena pertimbangan nasib dan kejadian yang luar biasa.
…………Semakin tak menentu, tapi dalam perjalanan mesti dilanjutkan, karena ia ingin mencapainya. Ia memang dibayangi oleh pikiran-pikiran itu, tapi ini sebuah anugerah, karena buatnya dengan pikiran-pikiran itu, ia tidak mudah jenuh, dan lebih leluasa untuk tetap menentukan arah yang benar, arah hidup yang ia tahu bukan hanya teori saja, melainkan harus dibuktikan kebenarannya.
……….Kenna, hingga suatu saat, ia berusaha dan benar-benar berhenti untuk mencapai titik tolak yang semestinya diperoleh. Sebuah persinggahan yang mengandung target-target dari tujuan itu. Sehingga hal itulah yang membuatnya lupa akan pertanyaannya dulu yang dirasakan jawabannya hanya itu-itu saja. Dan sekarang ia memiliki pertanyaaan “kenapa tidak untuk sebuah persinggahan itu, kenna. Sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab dikemudian.
……………….., hanya untuk orang-orang yang memiliki kepekaan jiwa.
…………Kenna; nanti (bahasa Banjar)
Langganan:
Komentar (Atom)
Curhatan Warga Desa
Ironi: Galengan* ROSID WURYANTO · SABTU, 12 OKTOBER 2019 ·1 MENIT ..., “ Ki Lurah, cukup satu saja permintaan kami, embung !!! Janga...
-
Kenna!!!, di Persinggahan Terakhirnya ……………Dalam perjalanan itu, tak henti-hentinya ia bertanya. “apakah ia telah sampai?”.ternyata jawabann...
-
AKU SAYANG KITA ., Agustus 2002, ketika itu semua terlihat biasa saja, semua terdiam, hanya saling berpandangan, ada yang sungkan, ada ya...